RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Dishut Kalsel) menggelar rapat pembahasan pengelolaan Tahura Sultan Adam, sekaligus pengembangan bisnis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) komoditas mete. Rapat dipimpin langsung oleh Kepala dishut Kalsel, Fathimatuzzahra. Dihadiri para pejabat Eselon III di lingkungan Dishut Kalsel, serta jajaran UPTD Tahura Sultan Adam untuk menyusun langkah strategis dalam optimalisasi pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Dalam arahannya, Fathimatuzzahra menegaskan pengelolaan Tahura Sultan Adam ke depan tidak hanya berorientasi pada pengembangan wisata alam, tetapi juga harus mampu menjadi kawasan yang produktif melalui pemanfaatan potensi hasil hutan bukan kayu. Salah satu komoditas yang menjadi fokus pengembangan adalah mete, yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar kawasan. Sekaligus meningkatkan kemandirian pengelolaan Tahura melalui pengembangan model bisnis yang berkelanjutan.
Pada rapat tersebut dipaparkan berbagai capaian dan rencana pengembangan HHBK mete. Di antaranya pelaksanaan sosialisasi di Desa Banua Riam dan Desa Bunglai, pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH), serta inventarisasi tanaman mete pada lokasi pengembangan. Selain itu, dibahas rencana dukungan pendanaan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Tahura untuk pembangunan dan penyempurnaan rumah produksi, pemeliharaan tanaman mete, pengembangan rumah produksi di tingkat kelompok tani, pengadaan stup madu kelulut, hingga penyusunan aplikasi pendapatan yang akan mendukung tata kelola usaha secara lebih profesional dan akuntabel.
Rapat juga membahas penguatan sarana dan prasarana pendukung pengelolaan Tahura Sultan Adam, khususnya untuk mendukung operasional kawasan dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengadaan tangki air, pembangunan sekat bakar, penyediaan sarana operasional untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses, serta dukungan infrastruktur lainnya menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan sekaligus memastikan keberlangsungan kegiatan pengelolaan di lapangan.
Melalui rapat ini, Dishut Kalsel menegaskan komitmennya untuk mengembangkan Tahura Sultan Adam sebagai kawasan konservasi yang tidak hanya berfungsi menjaga kelestarian hutan. Tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Pengembangan bisnis HHBK mete diharapkan menjadi salah satu contoh keberhasilan kolaborasi pengelolaan kawasan, pemberdayaan masyarakat, serta tindak lanjut dari hasil kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), sehingga manfaat rehabilitasi dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat dan mendukung peningkatan pendapatan Tahura.
Editor : Fauzan Ridhani