RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Proyek pembangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Balangan terancam molor. Hingga kini, progres pembangunan baru sebatas penyelesaian tembok keliling, sementara pembangunan fasilitas utama belum dapat dilanjutkan.
Mandeknya proyek strategis tersebut merupakan dampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang membuat alokasi dana pembangunan tersendat.
Melihat kondisi itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Selatan, Erwedi Supriyatno, langsung menemui Bupati Balangan, H Abdul Hadi, untuk meminta dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah agar proyek tidak berakhir mangkrak.
Erwedi menjelaskan, terdapat empat fasilitas yang menjadi prioritas dan harus segera dibangun agar Lapas Balangan bisa mulai beroperasi. Keempat fasilitas tersebut meliputi dua blok hunian warga binaan, gedung administrasi, dapur, dan poliklinik.
"Beroperasinya Lapas Balangan sudah sangat mendesak untuk mengurangi persoalan overkapasitas yang selama ini terjadi di lapas maupun rutan di wilayah sekitar," ujarnya.
Permintaan tersebut mendapat respons positif dari Bupati Balangan. Namun, Abdul Hadi menegaskan pemerintah daerah tidak akan langsung mengalokasikan anggaran tanpa terlebih dahulu mempelajari rencana pembangunan secara menyeluruh.
Ia meminta Kanwil Ditjenpas Kalsel segera menyerahkan dokumen master plan atau rencana induk pembangunan Lapas Balangan sebagai dasar pengambilan keputusan.
"Kami menyambut baik dan siap menindaklanjuti. Namun, silakan sampaikan terlebih dahulu master plan pembangunannya secara lengkap. Dokumen itu akan menjadi dasar kajian kami untuk menyesuaikan dengan prioritas serta kemampuan anggaran daerah," tegas Abdul Hadi.
Apabila dokumen tersebut telah diterima dan hasil kajian menyatakan memungkinkan, Pemkab Balangan akan memprioritaskan pembangunan empat fasilitas utama tersebut agar Lapas Balangan dapat segera difungsikan dan membantu mengatasi persoalan kelebihan kapasitas di lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan di Kalimantan Selatan.
Editor : Eddy Hardiyanto