Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Krisis Air Bersih Banjar Meluas, 22 Desa Terdampak Kemarau dan Pencemaran

M Fadlan Zakiri • Kamis, 16 Juli 2026 | 17:13 WIB

DISTRIBUSI: Petugas BPBD Kabupaten Banjar mengisi tandon air bersih di desa terdampak kemarau dan pencemaran Sungai Martapura untuk memenuhi kebutuhan warga. (Foto: BPBD Kabupaten Banjar)
DISTRIBUSI: Petugas BPBD Kabupaten Banjar mengisi tandon air bersih di desa terdampak kemarau dan pencemaran Sungai Martapura untuk memenuhi kebutuhan warga. (Foto: BPBD Kabupaten Banjar)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Krisis air bersih di Kabupaten Banjar terus meluas. Dampak musim kemarau yang disertai pencemaran Sungai Martapura membuat 22 desa di delapan kecamatan mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

 

Untuk memenuhi kebutuhan warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar hingga pertengahan Juli 2026 telah menyalurkan lebih dari 430 ribu liter air bersih ke desa-desa terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengatakan distribusi dilakukan menggunakan puluhan mobil tangki yang menyuplai air ke tandon-tandon yang telah ditempatkan di desa terdampak.

"Total sekitar 86 rit mobil tangki yang kami antarkan ke 82 tandon yang juga telah ditempatkan di desa-desa terdampak untuk memudahkan distribusi kepada masyarakat," ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Kabupaten Banjar, Kamis (16/7/2026).

Dua Penyebab Krisis Air Bersih

Wasis menjelaskan, kondisi tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Krisis air bersih dipicu oleh dua persoalan yang terjadi secara bersamaan, yakni kemarau yang menyebabkan kekeringan dan pencemaran Sungai Martapura.

Menurutnya, sebagian desa mengalami kesulitan air akibat menurunnya debit sumber air selama musim kemarau. Di sisi lain, sejumlah wilayah di sepanjang aliran Sungai Martapura tidak dapat memanfaatkan air sungai karena kualitasnya menurun akibat pencemaran.

"Ada yang terdampak kemarau dan kekeringan, ada juga yang terdampak pencemaran sungai," katanya.

Dampak pencemaran masih dirasakan masyarakat di wilayah Kecamatan Martapura Timur, Martapura Barat, dan Sungai Tabuk, yang selama ini bergantung pada Sungai Martapura sebagai sumber air.

Beruntung Baru Jadi Wilayah Paling Mengkhawatirkan

Selain kawasan bantaran sungai, dampak kemarau juga mulai meluas ke wilayah pesisir Kabupaten Banjar.

BPBD mencatat Kecamatan Beruntung Baru menjadi salah satu daerah yang paling mengkhawatirkan karena tidak hanya mengalami penurunan debit air, tetapi juga terdampak intrusi air laut.

Akibatnya, air sumur warga mulai mengering. Air yang masih tersisa pun mengalami peningkatan kadar garam sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Di Beruntung Baru sekarang mulai banyak pengajuan bantuan air bersih. Sumur warga juga mulai kering, sementara air yang tersisa cenderung semakin asin sehingga tidak layak digunakan," jelas Wasis.

Distribusi Air Bersih Terus Dilanjutkan

BPBD Kabupaten Banjar memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masih ada permintaan dari pemerintah desa maupun laporan masyarakat.

Penyaluran dilakukan secara bergilir agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama musim kemarau masih berlangsung.

BPBD juga terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait untuk memastikan pasokan air bersih dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.

"Selama masih ada laporan dari masyarakat, kami akan terus menyalurkan air bersih bersama seluruh pihak terkait agar kebutuhan warga tetap terpenuhi," tutup Wasis. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
krisis air bersih Banjar pencemaran Sungai Martapura kemarau Kabupaten Banjar BPBD Kabupaten Banjar distribusi air bersih