RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Penemuan granat tangan jenis granat nanas di Desa Aranio, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, memunculkan pertanyaan menarik. Bagaimana sebuah granat yang diduga diproduksi lebih dari satu abad lalu bisa berada di kawasan pedalaman Kalimantan Selatan?
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menilai temuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga berpotensi menjadi artefak yang menyimpan jejak sejarah perkembangan teknologi persenjataan dunia serta perjalanan distribusi senjata di wilayah Nusantara.
Granat yang ditemukan sebelumnya telah diidentifikasi Tim Penjinak Bom (Jibom) Detasemen Gegana Satbrimob Polda Kalimantan Selatan sebagai granat produksi sekitar tahun 1916.
Mirip Granat Militer Era Perang Dunia I
Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk fisiknya, Mansyur menjelaskan granat tersebut memiliki karakteristik granat tangan militer awal abad ke-20.
Bentuknya membulat dengan permukaan bersegmen menyerupai kulit nanas, desain yang memang dibuat agar badan granat pecah menjadi serpihan logam saat meledak.
"Karakteristik tersebut memiliki kemiripan dengan desain granat tangan Inggris jenis Mills Bomb, khususnya varian awal yang mulai dikembangkan dan diproduksi sekitar tahun 1915 hingga 1916," ujarnya saat dimintai analisis, Rabu (15/7/2026).
Menurut Mansyur, desain seperti itu berkembang seiring kebutuhan militer pada masa Perang Dunia I, terutama ketika perang parit (trench warfare) menuntut penggunaan granat tangan yang lebih efektif dalam pertempuran jarak dekat.
Salah satu model yang paling dikenal saat itu adalah Mills Bomb No. 5 buatan Inggris. Granat tersebut menggunakan badan besi cor yang berisi bahan peledak serta dilengkapi pin dan tuas pengaman sebagai mekanisme pemicu.
Tahun Produksi Tidak Bisa Dilihat dari Karat
Meski demikian, Mansyur mengingatkan kondisi fisik granat yang telah dipenuhi korosi tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menentukan usia maupun tahun pembuatannya.
Menurut dia, logam yang telah puluhan tahun berada di lingkungan lembap dapat memiliki tingkat korosi yang hampir sama dengan logam yang telah berusia lebih dari satu abad.
Karena itu, penetapan tahun produksi 1916 kemungkinan dilakukan Tim Jibom melalui identifikasi teknis, seperti bentuk mekanisme penyala (fuse), nomor seri, kode produksi, hingga karakteristik pabrik pembuatnya.
"Komponen penyala merupakan salah satu bagian penting karena setiap periode memiliki desain yang berbeda," jelasnya.
Diduga Berkaitan dengan Jejak Militer Kolonial
Mansyur menilai keberadaan granat tersebut di Aranio membuka peluang kajian sejarah yang menarik.
Menurutnya, Kalimantan Selatan pernah menjadi bagian dari jaringan militer kolonial Hindia Belanda melalui Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Persenjataan buatan Eropa sangat mungkin masuk melalui distribusi pasukan, gudang militer, maupun aktivitas keamanan kolonial.
Selain itu, dinamika Perang Dunia II hingga Revolusi Kemerdekaan Indonesia juga memungkinkan berbagai jenis persenjataan lama berpindah tangan atau tertinggal di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan.
Meski demikian, ia menegaskan jalur pasti bagaimana granat tersebut bisa berada di Aranio belum dapat dipastikan hanya berdasarkan bentuk fisiknya.
"Masih diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa analisis forensik material, identifikasi kode pabrik, serta pencocokan dengan arsip militer agar asal-usul granat dapat diketahui secara lebih akurat," katanya.
Tetap Berbahaya Meski Berusia Lebih Seabad
Di sisi lain, Mansyur mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap granat tua sebagai benda yang sudah tidak berbahaya.
Menurutnya, usia yang telah mencapai lebih dari satu abad tidak serta-merta membuat bahan peledak kehilangan daya rusaknya.
Bahkan, pada beberapa kasus, korosi justru dapat meningkatkan risiko karena mekanisme internal granat menjadi tidak stabil.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menyentuh atau memindahkan benda yang diduga merupakan bahan peledak, melainkan segera melaporkannya kepada aparat kepolisian atau instansi berwenang.
Membuka Ruang Penelitian Sejarah
Bagi Mansyur, temuan granat di Aranio memiliki nilai lebih dari sekadar penemuan benda berbahaya.
Dari perspektif sejarah, granat tersebut merupakan artefak yang merefleksikan perkembangan teknologi persenjataan pada awal abad ke-20 sekaligus membuka kemungkinan adanya keterkaitan dengan jaringan militer kolonial di Kalimantan Selatan.
"Keberadaannya menjadi bukti material bahwa konflik global pada awal abad ke-20 meninggalkan jejak hingga wilayah Nusantara, termasuk daerah pedalaman seperti Aranio," pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno