RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Cara merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Gunung Kahung tahun ini dipastikan berbeda.
Bukan sekadar mendaki dan mengibarkan Merah Putih di puncak, sebanyak 200 pendaki justru ditantang membawa turun sampah yang selama ini mencemari jalur pendakian.
Aksi bertajuk Gerakan Anti Sampah (GAS) Kahung itu dijadwalkan berlangsung pada 15–18 Agustus 2026 di kawasan ekowisata Gunung Kahung, Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar.
Seluruh peserta diwajibkan memungut dan membawa turun sampah non-organik, yang ditemukan sepanjang perjalanan menuju puncak setinggi 1.456 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Ketua Pokdarwis Kahung Raya Hendri Hidayat mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata mengisi kemerdekaan dengan menjaga kelestarian alam.
"Merdeka itu juga berarti memerdekakan alam dari pencemaran. Kami ingin momentum HUT RI menjadi pengingat bahwa setiap pendaki memiliki tanggung jawab menjaga gunung tetap bersih," ujarnya.
Menurutnya, sampah plastik, botol minuman, hingga kemasan makanan yang ditinggalkan oknum pendaki masih menjadi persoalan di jalur Gunung Kahung.
Karena itu, seluruh sampah yang terkumpul akan dibawa turun, dipilah, lalu dikelola agar tidak kembali mencemari kawasan hutan.
Tak hanya operasi bersih jalur, Gas Kahung juga dirangkai dengan kegiatan eco-camping, kompetisi konten digital, dan upacara pengibaran Bendera Merah Putih di puncak.
Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk mengampanyekan Zero Waste Kahung, yakni gerakan menjadikan Gunung Kahung sebagai destinasi pendakian yang bebas dari sampah.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Badan Geopark Meratus, Tahura Sultan Adam, Pemerintah Kabupaten Banjar dan Pemerintah Desa Belangian.
Panitia menyiapkan perlengkapan kebersihan bagi seluruh peserta, sekaligus menyediakan layanan ojek gratis sejauh sekitar tujuh kilometer saat perjalanan turun gunung.
Fasilitas itu, jelas Dayat, disiapkan agar peserta lebih mudah membawa perlengkapan sekaligus hasil pengumpulan sampah.
Ia berharap Gas Kahung tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, perubahan perilaku pendaki menjadi target utama yang ingin dicapai.
"Kalau setiap pendaki membawa turun sampah yang ditemuinya, bukan hanya sampah miliknya sendiri, Gunung Kahung akan tetap lestari. Itu budaya yang ingin kami bangun bersama," pungkasnya.
Dukungan Desa Belangian
Kepala Desa Belangian Aunul Khoir menyambut baik pelaksanaan Gerakan Anti Sampah (GAS) Kahung yang digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 RI.
Menurutnya, kegiatan perdana yang digelar dengan konsep ‘perang sampah’ ini, bukan sekadar agenda pendakian, tetapi juga menjadi sarana mengedukasi masyarakat dan wisatawan, agar semakin peduli terhadap kelestarian kawasan ekowisata Gunung Kahung.
Pemerintah Desa Belangian, tegas Aunul, mendukung penuh kegiatan tersebut karena sejalan dengan upaya menjaga kebersihan kawasan wisata, sekaligus membangun budaya pendakian yang bertanggung jawab.
"Gunung Kahung merupakan aset wisata yang harus dijaga bersama. Kami berharap kegiatan ini menjadi contoh bagi para pendaki agar tidak meninggalkan sampah dan semakin peduli terhadap kelestarian alam," ujarnya.
Aunul berharap Gas Kahung dapat menjadi agenda rutin yang melibatkan lebih banyak komunitas pencinta alam.
Dengan begitu, budaya membawa turun sampah dari gunung dapat terus tumbuh dan menjadi kebiasaan setiap pendaki.
"Kami ingin siapa pun yang datang ke Gunung Kahung pulang membawa pengalaman, bukan meninggalkan sampah. Menjaga gunung adalah tanggung jawab kita bersama," tutupnya.
Editor : M Oscar Fraby