RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Dampak pencemaran Sungai Martapura akibat ribuan bangkai ikan kini semakin meluas. Di Desa Sungai Rangas, Kecamatan Martapura Barat, prosesi memandikan jenazah seorang warga bahkan sempat tertunda karena tidak tersedia air bersih.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (12/7/2026). Kemarau membuat sumber air warga mengering, sedangkan air Sungai Martapura tidak dapat digunakan karena berbau menyengat akibat pencemaran bangkai ikan.
Kepala BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, pihaknya langsung mengalihkan rute distribusi air bersih setelah menerima laporan adanya warga meninggal dunia yang belum bisa dimandikan.
Baca Juga: Jutaan Bangkai Ikan Cemari Sungai Martapura, Pemkab Banjar Kerahkan Tim Darurat
"Saat kami tiba di Sungai Rangas, jenazah belum bisa dimandikan karena tidak ada air bersih. Air sungainya berbau dan tidak layak dipakai," ujarnya.
Saat tim BPBD tiba di lokasi, jenazah masih belum dimandikan.
"Mereka bingung mau dimandikan pakai air sungai, air sungainya berbau. Enggak layak. Jadi terpaksa menunggu suplai air dari BPBD," katanya.
BPBD kemudian menyalurkan dua tandon air bersih sehingga prosesi pemulasaraan jenazah dapat segera dilaksanakan sebelum dimakamkan seusai Salat Zuhur.
Krisis Air Bersih Makin Meluas
Wasis mengatakan, kejadian tersebut menjadi gambaran semakin beratnya krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar.
Menurut dia, kondisi itu dipicu dua persoalan yang terjadi bersamaan, yakni kemarau yang menyebabkan sumber air warga menyusut serta pencemaran Sungai Martapura akibat bangkai ikan yang membusuk.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD memperluas distribusi air bersih ke sejumlah wilayah terdampak, terutama Kecamatan Astambul, Martapura Barat, dan desa-desa di sepanjang bantaran Sungai Martapura.
Saat ini BPBD telah menempatkan sekitar 80 hingga 90 tandon air di berbagai titik, antara lain Desa Pingaran Ulu, Pingaran Ilir, Tambang Anyar, Hambuku, hingga Sungai Rangas.
Setiap hari armada tangki BPBD sedikitnya melakukan 10 kali perjalanan dengan kapasitas 5.000 liter per rit. Dengan demikian, sekitar 50.000 liter air bersih disalurkan kepada masyarakat setiap hari.
Pasokan air berasal dari kerja sama dengan PT Air Minum Intan Banjar, sistem Banjarbakula, serta sumur milik BPBD.
"Distribusinya turut dibantu relawan Buser 690 dan personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar," ujarnya.
Wasis menambahkan, pemerintah desa yang mengalami krisis air bersih dapat mengajukan permohonan distribusi melalui surat resmi kepada Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD agar penyaluran segera dijadwalkan.
"Selama masyarakat masih membutuhkan dan kondisi darurat masih terjadi, kami akan terus memprioritaskan distribusi air bersih ke wilayah yang paling terdampak," tutupnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno