Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

DKPP Tanah Bumbu Dorong Petani Percepat Tanam Hadapi Kemarau

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Minggu, 12 Juli 2026 | 15:28 WIB
PERSAWAHAN: Hamparan sawah tadah hujan di Kabupaten Tanah Bumbu. DKPP mendorong percepatan tanam dan penggunaan benih unggul untuk mengantisipasi potensi musim kemarau. (Foto: DKPP Tanah Bumbu untuk Radar Banjarmasin)
PERSAWAHAN: Hamparan sawah tadah hujan di Kabupaten Tanah Bumbu. DKPP mendorong percepatan tanam dan penggunaan benih unggul untuk mengantisipasi potensi musim kemarau. (Foto: DKPP Tanah Bumbu untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Tanah Bumbu mendorong percepatan tanam dan penggunaan benih unggul untuk mengantisipasi potensi musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus–Oktober 2026.

Langkah itu menyusul prediksi BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan yang memperkirakan puncak El Nino di Kalsel terjadi pada periode tersebut.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Tanah Bumbu, Robby Chandra, mengatakan sebagian besar sawah di Tanah Bumbu merupakan sawah tadah hujan sehingga sangat bergantung pada curah hujan.

"Prediksi BMKG memang menyebutkan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Saat ini intensitas curah hujan juga diprediksi mulai menurun," ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, DKPP mendorong petani mempercepat masa tanam selama ketersediaan air masih mencukupi.

"Selama air masih tersedia, petani kami dorong segera mengolah lahan dan menanam sehingga dalam tiga hingga empat bulan ke depan tanaman sudah memasuki masa panen," katanya.

Selain percepatan tanam, DKPP juga mengimbau petani menggunakan benih unggul atau varietas baru agar hasil panen maksimal. Menurut Robby, jika sebagian varietas lokal membutuhkan waktu hingga sekitar enam bulan untuk dipanen, benih unggul rata-rata sudah dapat dipanen dalam waktu sekitar 120 hingga 125 hari.

Ia berharap strategi tersebut membuat tanaman telah memasuki fase generatif akhir atau mendekati panen ketika puncak kemarau terjadi, sehingga risiko kekurangan air lebih kecil dibandingkan apabila tanaman masih berada pada fase vegetatif.

Robby menambahkan, semangat petani saat ini juga meningkat seiring naiknya harga Gabah Kering Panen (GKP) yang ditetapkan pemerintah menjadi sekitar Rp6.500 per kilogram.

"Dengan harga yang baik, petani lebih bersemangat. Setelah panen mereka langsung mengolah lahan lagi, menyemai, kemudian menanam kembali," tutupnya.

Editor : Arif Subekti
#petani #panen #dkpp #lahan