Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pemkab Sebut Krisis Empati Keluarga Picu Remaja di Banjar Terpapar Radikal

M Fadlan Zakiri • Jumat, 10 Juli 2026 | 16:41 WIB
WAWANCARA: Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banjar, H. Yudhi Andrea. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
WAWANCARA: Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banjar, H. Yudhi Andrea. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Kasus seorang remaja 14 tahun di Kabupaten Banjar yang dicuci otaknya hingga menjadi admin grup WhatsApp radikal, memantik evaluasi besar-besaran. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar menyimpulkan, krisis empati di tengah keluarga dan melemahnya kepekaan sosial di masyarakat menjadi akar permasalahan utama.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banjar, H. Yudhi Andrea, menyoroti bahwa renggangnya hubungan emosional antara orang tua dan anak telah menciptakan ruang kosong di rumah. 

Ruang hampa kasih sayang dan empati inilah yang kemudian dieksploitasi oleh kelompok ekstremis melalui media sosial.

"Salah satu penyebabnya saat ini adalah kedekatan antara orang tua dan anak yang sudah mulai berkurang. Tidak ada lagi pengawasan dan empati. Nah, ini yang coba kita tumbuhkan kembali. Peran keluarga yang kita utamakan," tegas Yudhi, Kamis (9/7/2026). 

Menyadari fenomena pergeseran sosial ini, terlebih setelah terungkapnya fakta bahwa remaja tersebut menarik diri akibat menjadi korban perundungan (bullying), Pemkab Banjar tak tinggal diam.

Yudhi membeberkan, pihaknya bersama instansi terkait tengah merumuskan sebuah program khusus untuk merekonstruksi ulang ketahanan keluarga. 

Tujuannya adalah menghidupkan kembali budaya interaksi yang mulai tergerus oleh era digital.

"Hari ini kami bersama kawan-kawan Dinas Sosial meminta persetujuan ke Pak Bupati untuk menghidupkan kembali budaya interaksi di dalam keluarga. Jadi, harus ada waktu khusus untuk berinteraksi dengan keluarga," ungkapnya.

Selain pertahanan di level rumah, Yudhi juga menyoroti kepekaan lingkungan sekitar yang dinilai mulai luntur. 

Ia memaparkan, pola penyebaran radikalisme kini tak lagi mengandalkan pertemuan fisik, melainkan bergerilya secara kasatmata di ruang maya. 

“Kondisi ini membuat pemantauan konvensional menjadi sangat sulit,” katanya.

Untuk memperkuat proteksi, Yudhi meminta jajaran di tingkat bawah lebih proaktif. Ia ingin peran RT, RW, hingga lembaga kemasyarakatan diaktifkan sebagai garda terdepan deteksi dini radikalisme.

“Kepekaan sosial harus ditingkatkan. RT dan RW harus berperan aktif menjaga anak-anak kita dari pengaruh radikalisme sejak dini,” tegas Yudhi.

Terkait kasus anak 14 tahun asal Kecamatan Tatah Makmur yang mencuat, ia memastikan pemerintah daerah tidak lepas tangan. 

Saat ini, tanbah Yudi, penanganan telah dilakukan melalui sinergi lintas instansi secara komprehensif.

“Anak yang terpapar sudah kita pantau dan bina bersama Dinsos serta kepolisian. Saat ini, ia sudah menjalani rehabilitasi dan kembali ke lingkungan masyarakat,” pungkasnya. 

Editor : Sutrisno
#Banjar #radikal