Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Setiap Kemarau Ada Ribuan Ikan Keramba Mati, Desa Sungai Arfat Kabupaten Banjar Desak Solusi Permanen

M Fadlan Zakiri • Jumat, 10 Juli 2026 | 16:32 WIB
TERDAMPAK: Kepala Desa Sungai Arfat bersama pembudidaya ikan dan DPD Tani Merdeka Indonesia meninjau keramba jaring apung yang terdampak penurunan debit air saat musim kemarau.
TERDAMPAK: Kepala Desa Sungai Arfat bersama pembudidaya ikan dan DPD Tani Merdeka Indonesia meninjau keramba jaring apung yang terdampak penurunan debit air saat musim kemarau.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Musim kemarau kembali menjadi ancaman bagi pembudidaya ikan keramba jaring apung di Desa Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Hampir setiap tahun, penurunan debit air menyebabkan kadar oksigen di perairan merosot hingga ribuan ikan mati sebelum masa panen. 

Hingga kini, persoalan tersebut belum memiliki solusi permanen.

Pemerintah Desa Sungai Arfat pun mendesak adanya pengaturan distribusi air agar pasokan air ke sungai tetap terjaga saat musim kemarau. 

Selama ini, langkah yang bisa dilakukan hanya mengimbau pembudidaya memanen ikan lebih awal untuk mengurangi kerugian.

Kepala Desa Sungai Arfat, H. Iyan, mengatakan kematian ikan di keramba sudah menjadi persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau. 

Penurunan debit air yang terjadi dalam waktu singkat membuat kadar oksigen di sungai ikut menurun sehingga ikan tidak mampu bertahan hidup.

 "Hampir setiap musim kemarau kejadian seperti ini terulang," katanya.

Menurut Iyan, pemerintah desa selama ini hanya dapat mengingatkan warga agar segera memanen atau menjual ikan yang sudah layak konsumsi sebelum kondisi air semakin memburuk.

"Kalau sudah masuk musim kemarau, kami minta warga segera panen supaya kerugiannya tidak terlalu besar," ujarnya.

Ia berharap pemerintah bersama instansi terkait dapat menyusun pola distribusi air yang lebih baik sehingga kebutuhan air di sungai maupun saluran irigasi tetap terpenuhi.

"Harus ada pengaturan distribusi air supaya kejadian ini tidak terus berulang," tegasnya.

Minta BWS Benahi Distribusi Air

Harapan serupa disampaikan Ketua BPD Desa Sungai Arfat yang juga pembudidaya ikan, Nasrudin. 

Menurutnya, persoalan kekurangan air saat musim kemarau sudah berlangsung bertahun-tahun dan hingga kini belum mendapat penanganan yang mampu menghentikan kematian ikan di keramba.

Karena itu, ia meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan bersama Pemerintah Kabupaten Banjar memberi perhatian lebih serius terhadap pengelolaan distribusi air. 

Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci agar kebutuhan air di sungai tetap terpenuhi selama musim kemarau.

“Kami berharap ada solusi nyata. Jangan sampai setiap tahun petani ikan mengalami kerugian karena ikan mati akibat kekurangan air," katanya.

Nasrudin menilai pengaturan distribusi air menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlangsungan usaha budidaya ikan masyarakat. 

Ia berharap pemerintah tidak hanya turun tangan ketika kematian ikan sudah terjadi, tetapi juga menyusun langkah antisipatif agar peristiwa serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

"Yang dibutuhkan petani bukan hanya penanganan saat ikan mati, tetapi langkah pencegahan agar kejadian seperti ini tidak terus berulang," tegasnya.

Jadi Persoalan Tahunan

Keluhan para pembudidaya itu turut menjadi perhatian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Banjar yang meninjau kawasan keramba jaring apung di Desa Sungai Arfat, Selasa (7/7).

Ketua DPD TMI Kabupaten Banjar, Hj. Helda Rina, mengatakan hasil peninjauan membenarkan keluhan masyarakat. 

Berkurangnya debit air menyebabkan kadar oksigen di perairan turun sehingga ikan di keramba banyak yang mati ketika musim kemarau.

"Masalah ini bukan hanya terjadi tahun ini. Hampir setiap musim kemarau selalu terulang sehingga perlu solusi jangka panjang," ujarnya.

Menurut Helda, persoalan tersebut akan menjadi masukan bagi organisasi maupun pemerintah daerah untuk mendorong kolaborasi lintas instansi dalam mencari penyelesaian yang lebih permanen.

Ia menilai penanganan persoalan tidak cukup hanya dilakukan ketika kematian ikan sudah terjadi. 

Diperlukan langkah terpadu, mulai dari pengelolaan distribusi air hingga upaya mitigasi agar pembudidaya tidak terus mengalami kerugian setiap musim kemarau.

"Harus ada kolaborasi agar persoalan ini tidak terus berulang dan masyarakat tidak lagi menanggung kerugian setiap tahun," pungkasnya.

Editor : Sutrisno
#martapura #Banjar #ikan