RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Keseharian warga Desa Hujan Mas dan Desa Tarangan, Kecamatan Paringin, terganggu akibat terputusnya akses penyeberangan utama antar desa. Jembatan Hujan Mas yang ambruk pada akhir Mei lalu hingga kini masih miring dan tak bisa dilintasi.
Lumpuhnya fasilitas tersebut memaksa warga memutar melalui rute alternatif melewati jembatan besi di Desa Murung Jambu atau Desa Layap. Kondisi ini membuat jarak tempuh menuju sekolah maupun areal perkebunan cukup jauh.
Kepala Desa Hujan Mas, Abdul Hadi, membeberkan bahwa kerusakan konstruksi yang terakhir diperbaiki pada 2013 itu bermula dari angkur kayu ulin penyangga tali sling yang patah. Sebelum benar-benar amblas menyentuh aliran sungai, jembatan ini memang sudah miring dan sempat diusulkan ke Musrenbang untuk diperbaiki.
Terkait insiden patahnya angkur tersebut, Abdul Hadi menuturkan ada seorang warga dari desa tetangga yang kebetulan sedang melintas tepat di atas jembatan.
"Beruntung warga tersebut tetap bertahan di atas jembatan walau kondisinya perlahan miring. Ia kemudian dibantu oleh warga lainnya untuk menyelamatkan diri," terang Abdul Hadi.
Merespons kelumpuhan urat nadi antar desa tersebut, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRPerkim) Kabupaten Balangan akhirnya memberikan kepastian. Tim Bidang Bina Marga telah diterjunkan melakukan survei fisik guna menentukan skala prioritas penanganan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPRPerkim Balangan, Rina Ariyani, memastikan bahwa perbaikan jembatan gantung ini tidak akan menggunakan skema swakelola karena membutuhkan penanganan yang jauh lebih masif.
"Untuk penanganannya akan dimasukkan di Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2026, rencana akan rehabilitasi," tegas Rina saat dikonfirmasi, Rabu (8/7).
Melalui kepastian usulan pada Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tersebut, penanganan Jembatan Hujan Mas diharapkan bisa segera terealisasi. Pelaksanaan rehabilitasi ditargetkan bisa menjadi solusi permanen untuk mengembalikan mobilitas ekonomi dan pendidikan warga dua desa yang sempat terhambat selama sebulan terakhir.
Editor : M Oscar Fraby