RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Hamparan rawa di Desa Pajukungan Hulu, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), menjadi sumber penghidupan bagi sembilan nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Perikanan Tangkap Sapat Rawa. Berbekal semangat gotong royong dan pengelolaan usaha yang tertata, kelompok ini berhasil membukukan omzet hampir Rp400 juta dalam kurun dua tahun.
KUB Sapat Rawa berdiri pada 2 Februari 2024 sebagai wadah bagi nelayan untuk memperkuat usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Ketua KUB Sapat Rawa, Hibaturrahman, mengatakan pembentukan kelompok tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan potensi kawasan rawa sebagai pusat agrominapolitan di Hulu Sungai Utara.
"Alhamdulillah, langkah kecil kami sejalan dengan visi HSU Bangkit, khususnya dalam mengoptimalkan kawasan rawa sebagai pusat agrominapolitan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Omzet Tembus Rp392 Juta
Sehari-hari, anggota KUB mengandalkan alat tangkap sederhana seperti bubu dan jaring insang tetap. Mereka menggunakan kapal bermotor berukuran di bawah lima gross ton (GT) untuk menangkap ikan sepat rawa dan sepat siam yang menjadi komoditas unggulan di Kecamatan Babirik.
Meski menggunakan peralatan sederhana, hasil yang diperoleh cukup menjanjikan. Dalam dua tahun terakhir, KUB Sapat Rawa membukukan omzet sekitar Rp392,73 juta.
Dari jumlah tersebut, pendapatan bersih anggota mencapai sekitar Rp185,1 juta.
Menurut Hibaturrahman, kelompoknya tidak hanya menjual ikan segar. Saat hasil tangkapan melimpah, sebagian ikan diolah menjadi ikan kering agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Kelompok kami tidak berhenti pada aktivitas menangkap ikan. Saat hasil tangkapan melimpah, sebagian ikan diolah menjadi ikan kering agar memiliki nilai jual lebih tinggi," katanya.
Sementara itu, ikan dengan nilai ekonomi rendah dimanfaatkan sebagai pakan budidaya ikan toman yang dikelola sejumlah anggota. Pola tersebut menciptakan siklus usaha yang saling mendukung sehingga hasil tangkapan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Bangun Kelembagaan dan Kemandirian
Selain menjalankan usaha, anggota KUB rutin menggelar gotong royong membersihkan tempat ibadah dan lingkungan sekitar.
Sejumlah anggota juga telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem Online Single Submission (OSS) sebagai bekal mengembangkan usaha secara lebih profesional.
Penyuluh Perikanan Pendamping, Wahyudi Rachman, menilai KUB Sapat Rawa menjadi salah satu kelompok nelayan yang aktif memperkuat organisasi sekaligus membangun kemandirian anggotanya.
"Kelompok ini rutin melaksanakan pertemuan bulanan, membangun permodalan melalui simpanan pokok dan simpanan wajib, serta aktif melaksanakan kegiatan sosial di masyarakat. Semangat kebersamaan seperti inilah yang menjadi modal penting dalam membangun usaha perikanan yang mandiri dan berkelanjutan," ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Kisah KUB Sapat Rawa menunjukkan bahwa pemberdayaan nelayan tidak selalu bergantung pada teknologi modern atau modal besar. Dengan kelembagaan yang kuat dan semangat kebersamaan, kawasan rawa di Babirik mampu menjadi sumber penghasilan sekaligus harapan bagi kesejahteraan masyarakat. (*)
Editor : M. Ramli Arisno