RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Musim kemarau mulai berdampak. Debit air Waduk Riam Kanan mengalami penurunan. Alhasil, turut berdampak pada pola operasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir. P.M. Noor.
PLN Indonesia Power memastikan, mulai 1 Juli mendatang, pembangkit hanya akan dioperasikan dengan satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt (MW) ketika Tinggi Muka Air (TMA) mencapai 57,00 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kebijakan ini tertuang dalam surat resmi PLN Indonesia Power UBP Barito Nomor 0384/STH.01.03/PLNIP220000/2026 tertanggal 23 Juni 2026. Saat surat diterbitkan, TMA Waduk Riam Kanan tercatat berada di level 57,58 mdpl.
Manager ULPLTAD Gunung Bamega, Reza Permana, menjelaskan penurunan debit air merupakan kondisi lazim pada musim kemarau. Penyesuaian pola operasi dilakukan untuk menjaga ketersediaan air hingga musim hujan kembali tiba.
“Jadi bukan terganggu. Sesuai informasi BMKG, saat ini sudah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan menurunnya inflow atau debit air yang masuk ke waduk. Agar aliran air di hilir tetap terjaga, dilakukan pengaturan beban melalui pengoperasian satu unit turbin berkapasitas 5 MW sejak 1 Juli 2026,” ujarnya.
Reza menegaskan, penyesuaian operasi PLTA bukan menjadi faktor utama pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini.
Sisi lain, dampak penurunan debit air juga menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Banjar. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), para pembudidaya ikan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi perairan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, mengatakan penyesuaian pola operasi PLTA berpotensi memengaruhi kualitas air yang digunakan untuk kegiatan budidaya. "Kami mengimbau seluruh pembudidaya ikan, baik di kolam maupun Keramba Jaring Apung (KJA), agar segera mengantisipasi potensi penurunan debit air Waduk Riam Kanan," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut, mengubah kualitas air, hingga meningkatkan risiko kematian ikan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, pembudidaya diminta mengurangi kepadatan tebar ikan sesuai kapasitas air, menambah aerator atau pompa air guna meningkatkan kadar oksigen, rutin memantau kualitas air dan kesehatan ikan, serta menyiapkan kolam maupun embung sebagai cadangan air.
Ia juga mengimbau para pembudidaya segera berkoordinasi dengan penyuluh perikanan atau DKPP Kabupaten Banjar apabila menghadapi kendala di lapangan. "Yang terpenting, pembudidaya tidak menunda langkah antisipasi agar risiko kematian ikan akibat perubahan kualitas air dapat diminimalkan," pesannya.
Kondisi penurunan debit air Waduk Riam Kanan juga mulai dirasakan para pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) di sepanjang aliran sungai. Mereka sangat bergantung pada pasokan air dari waduk.
Salah seorang pembudidaya ikan di Desa Tambela, Kecamatan Aranio, Iwan Hadruni, mengaku belum mengetahui adanya pengumuman resmi dari PLN Indonesia Power mengenai penyesuaian pola operasi PLTA Ir. P.M. Noor.
Namun, ia menyadari permukaan air sungai mulai mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, ketinggian air di sekitar keramba miliknya telah berkurang lebih dari dua jengkal dibandingkan kondisi normal.
Penurunan itu terlihat jelas dari bekas permukaan air yang masih membekas di tebing sungai. "Awalnya saya tidak tahu ada pengumuman itu. Tapi memang beberapa hari ini air sudah turun, bahkan lebih dari dua jengkal. Bekas air di tebing sungai masih kelihatan," ujarnya.
Iwan mengaku kondisi tersebut membuat para pembudidaya mulai waswas. “Saya pribadi pengumuman itu dari mulut ke mulut saja. Tidak ada pemberitahuan resmi,” ujarnya.
Ia juga menyebut sempat mendengar kabar adanya kematian ikan milik salah seorang pembudidaya keramba di wilayah Kecamatan Karang Intan beberapa hari lalu. Beruntung, ikan yang mati masih berupa bibit sehingga kerugian yang dialami belum sebesar jika ikan tersebut sudah mendekati masa panen. "Kami khawatir kalau air terus surut, kadar oksigen ikut turun. Kalau itu terjadi, ikan bisa stres bahkan mati. Apalagi sudah ada kabar bibit ikan di Karang Intan yang mati mendadak beberapa hari lalu," katanya.
Meski belum mengalami kematian ikan di kerambanya, Iwan mengaku kini lebih rutin memantau kondisi air dan perilaku ikan sebagai langkah antisipasi. Ia berharap penurunan debit air tidak berlangsung terlalu lama agar aktivitas budidaya tetap berjalan normal dan tidak menimbulkan kerugian bagi para pembudidaya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief