RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Rangkaian panjang operasional ibadah haji tahun 2026 untuk Debarkasi Banjarmasin resmi berakhir. Kelompok terbang (kloter) BDJ-19 yang menjadi kloter pamungkas, mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Rabu (1/7).
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Banjarmasin, Eddy Khairani, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran proses pemulangan ini. Ia mengungkap, dari total 353 jemaah kloter BDJ-19 yang berangkat ke tanah suci, sebanyak 348 jemaah tercatat kembali ke tanah air.
“Ada dinamika data pada kloter terakhir ini. Rinciannya, empat jemaah mutasi keluar, tiga jemaah dilaporkan meninggal dunia, dan dua jemaah mutasi masuk,” terang Eddy
Ia menegaskan kabar baik, bahwa seluruh jemaah haji asal Debarkasi Banjarmasin kini sudah dipastikan berada di daerah masing-masing. PPIH menjamin tidak ada satu pun jemaah yang tertinggal di Arab Saudi karena kendala medis maupun dokumen.
Secara akumulatif, total jemaah yang dipulangkan melalui Debarkasi Banjarmasin menyentuh angka ribuan orang. “Seluruh jemaah yang di Saudi semuanya sudah kembali ke tanah air. Jadi tidak ada yang tertinggal, baik yang sempat dirawat di rumah sakit setempat maupun di KKHI (Klinik Kesehatan Haji Indonesia),” katanya.
Sisi lain, Kepala Bidang Penerimaan dan Pemberangkatan Jemaah Haji PPIH Debarkasi Banjarmasin, Rasyid Luthfiana, membeberkan bahwa dari total 6.804 jemaah yang tergabung dalam 19 kloter, tercatat ada sembilan jemaah yang wafat di tanah suci.
“Jadi ada sembilan jemaah yang meninggal dunia, sehingga jemaah kita yang pulang ke Embarkasi dan Debarkasi Banjarmasin ini berjumlah 6.795 orang. Untuk jemaah yang meninggal, rinciannya dua orang dari Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dan tujuh orang dari Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel),” urai Rasyid.
Ia mengungkap, wafatnya sembilan jemaah tersebut murni disebabkan karena sakit. Mayoritas jemaah mengembuskan napas terakhir pasca-melaksanakan puncak rangkaian ibadah haji Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Karena mungkin habis Armuzna itu kan puncak haji, dan puncak lelahnya melaksanakan ibadah haji. Jadi ketika jemaah sudah memiliki penyakit bawaan, kondisi fisik yang drop tersebut memicu kekambuhan hingga terjadi meninggal dunia,” tuturnya.
Ditambahkannya, sesuai instruksi Kemenhaj, jajaran Kanwil hingga Kantor Kemenhaj Kabupaten/Kota diminta segera bertakziah ke rumah duka. Selain memberikan dukungan moral, kedatangan petugas juga untuk mengawal hak-hak jemaah.
“Ketika ada jemaah yang meninggal dunia, itu langsung kami takziah ke sana sambil memberitahukan bahwa jemaah yang meninggal dunia itu nanti akan mendapatkan asuransi dari Kemenhaj,” imbuhnya.
Di sisi lain, manajemen PPIH menyatakan tetap akan menggelar evaluasi total dalam waktu dekat sebagai persiapan menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bersama kementerian pusat.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief