RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Harapan menjadikan kopi rawa Desa Hiyung Kecamatan Tapin Tengah sebagai komoditas baru terus berproses. Setelah berhasil membuktikan tanaman kopi robusta mampu tumbuh dan berbuah di lahan rawa, kini tahap berikutnya adalah menguji kualitas cita rasa biji kopinya.
Proses itu mulai dilakukan oleh seorang pemuda Desa Pematang Karangan Hilir, Aiman Fadilah namanya. Ia mengumpulkan hasil panen kopi untuk dibawa ke tempat roasting atau sangrai di pusat kota Rantau, sehingga kualitas rasa dan aroma kopi dapat diketahui.
Namun, upaya tersebut belum bisa langsung dilakukan. Ternyata jumlah kopi yang terkumpul belum cukup untuk proses roasting.
"Sudah kami dibawa sedikit, tapi masih kurang. Untuk roasting minimal harus sekitar satu kilogram, jadi kami bawa lagi biji kopinya dan sekarang sudah proses roasting," ujar Aiman, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, pengujian melalui proses roasting menjadi tahapan penting sebelum kopi dipasarkan. Dari proses itulah akan diketahui karakter rasa, aroma, hingga kualitas kopi yang tumbuh di lahan rawa Desa Hiyung.
Ia berharap panen berikutnya dapat segera menambah stok biji kopi sehingga proses roasting bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Jika hasilnya memuaskan, bukan tidak mungkin kopi robusta asal Hiyung memiliki nilai jual lebih tinggi dan menjadi produk khas baru dari Kabupaten Tapin.
Selama ini Desa Hiyung dikenal luas sebagai sentra cabai Hiyung yang memiliki tingkat kepedasan tinggi. Kini, perlahan desa tersebut mulai menapaki peluang baru melalui pengembangan kopi rawa.
Aiman optimistis kopi Hiyung memiliki prospek yang menjanjikan. Menurutnya, keberhasilan budidaya hingga tanaman berbuah menjadi modal awal yang baik. Tahap berikutnya tinggal memastikan kualitas seduhan mampu bersaing di pasaran.
"Bagi kami, roasting ini menjadi pembuktian. Kami ingin tahu seperti apa rasa kopi yang tumbuh di lahan rawa Hiyung. Kalau hasilnya bagus, tentu akan menjadi semangat untuk mengembangkan tanaman kopi lebih luas lagi," pungkasnya.
Editor : Arif Subekti