RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Pesisir Bumi Saijaan sedang tidak baik-baik saja. Memasuki siklus musim tenggara, keganasan cuaca di perairan Kabupaten Kotabaru kian menjadi-jadi.
Dampaknya sangat memukul sektor perikanan lokal. Hampir 50 persen dari ribuan nelayan yang berbasis di Desa Rampa salah satu perkampungan nelayan terbesar di Kotabaru kini terpaksa menambatkan perahu mereka di dermaga karena tidak berani bertaruh nyawa di laut lepas.
Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Hamdani, membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut.
Ia melayangkan pandangan cemas ke arah laut. Menurutnya, keganasan musim tenggara tahun ini benar-benar membuat nyali para nelayan ciut.
"Musim tenggara kali ini gelombangnya benar-benar ganal (besar). Di atas kertas, risiko keselamatan sudah tidak masuk akal lagi untuk dipaksakan," ujar Hamdani, Selasa (30/6) sore.
Hamdani menceritakan kesaksiannya sendiri saat memantau langsung kondisi perairan di sekitar Tanjung Dewa baru-baru ini.
Situasi di batas cakrawala digambarkannya sangat mencekam dan jauh dari kata aman untuk pelayaran tradisional.
"Baru di kawasan Tanjung Dewa saja, tinggi gelombang sudah berkisar antara 2 hingga 3 meter. Itu belum seberapa. Kalau kita terus melaju semakin ke luar (laut lepas), gulungan ombaknya jauh lebih besar lagi. Pokoknya, tinggi gelombang itu sudah melampaui besar kapal balapan nelayan. Sangat mengerikan," bebernya.
Hantaman angin kencang dari arah tenggara ini menciptakan riak gelombang yang tidak beraturan, membuat kapal-kapal kecil berukuran dibawah 10 GT rawan terbalik.
Di sisi lain, cuaca buruk ini juga membuat biota laut seperti udang dan ikan memilih bersembunyi di perairan yang lebih dalam, sehingga membuat hasil tangkapan nelayan turun drastis dan tidak mampu menutupi tingginya biaya operasional.
Bagi segelintir nelayan yang tidak memiliki mata pencaharian alternatif dan terdesak kebutuhan dapur, mereka terpaksa bermain "kucing-kucingan" dengan cuaca. Ada strategi ketat yang harus dipatuhi jika ingin pulang dengan selamat.
"Kalau ada yang tetap nekat melaut, mereka wajib berangkat subuh, sekitar pukul 05.00 WITA. Dan sebelum pukul 09.00 WITA, mereka sudah harus memutar kemudi untuk pulang ke darat. Lewat dari jam itu, angin tenggara akan mengamuk dan gelombang pasti langsung membesar," jelas Hamdani.
Ia selalu menghimbau rekan-rekannya sesama nelayan untuk tidak egois dan mengutamakan keselamatan.
"Untuk menghindari hal-hal yang kada (tidak) diinginkan, lebih baik pulang lebih awal meski tangkapan kosong," tegasnya.
Berdasarkan hitungan adat dan kalender tradisional para pelaut Banjar, ketukan musim tenggara ini diprediksi masih akan berlangsung lama.
Puncak dari keganasan cuaca ini diperkirakan baru akan terjadi pada bulan Agustus mendatang, di mana angin akan berembus pada kecepatan tertingginya.
Namun, Hamdani menggarisbawahi bahwa prediksi tradisional tersebut kini sering kali meleset akibat dampak nyata dari perubahan iklim global yang membuat pola cuaca di laut menjadi kian anomali dan sulit ditebak.
"Dulu, hitungan kami bulan Agustus itu sudah puncak dan setelahnya angin mulai kurang. Tapi namanya laut sekarang, kondisinya sudah berubah karena faktor. Intinya, selama beberapa bulan kedepan, separuh nelayan kami kemungkinan besar akan tetap menjauh dari laut demi keselamatan nyawa," tutupnya mengakhiri.
Editor : M Oscar Fraby