Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Diduga Ada Likuifaksi di Tebing Tinggi, Pemicu Banjir di Kabupaten Balangan Diinvestigasi BPBD

M Dirga • Senin, 29 Juni 2026 | 14:54 WIB
vdagdfad
PEMETAAN ZONA RAWAN: Tim gabungan dari BPBD Provinsi Kalsel dan BPBD Balangan saat melakukan proses ground check dan pemetaan di titik dugaan pergeseran tanah kawasan Desa Tebing Tinggi pada 24-27 Juni 2026.(Foto:Elhami untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Teka-teki penyebab banjir bandang di Kecamatan Tebing Tinggi pada pengujung tahun 2025 lalu mulai diurai secara ilmiah. Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan dan BPBD Kabupaten Balangan baru saja merampungkan proses pemetaan dan ground check di kawasan tersebut.

Penyisiran dan verifikasi lapangan ini berlangsung maraton selama empat hari, pada 24-27 Juni 2026. Tim pemetaan membedah langsung struktur geologi di Desa Tebing Tinggi dan Desa Simpang Nadong guna mengumpulkan data teknis riil pada titik-titik yang diduga mengalami likuifaksi atau pergeseran tanah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, M Pormadi Dharma membeberkan investigasi lapangan ini memiliki konteks historis yang krusial. Pemetaan ini merupakan tindak lanjut langsung dari hasil kajian awal BPBD Provinsi Kalsel yang sempat mendeteksi adanya anomali pergerakan tanah pada 23 Desember 2025 silam.

"Fenomena pergerakan tanah pada 23 Desember tersebut diduga kuat menjadi faktor pemicu utama terjadinya banjir bandang yang melanda Kecamatan Tebing Tinggi empat hari setelahnya, yakni pada 27 Desember 2025. Saat itu, material lumpur dalam jumlah masif tersapu air hingga menggenangi permukiman warga sampai setinggi atap rumah," urai Pormadi, Senin (29/6/2026).

Selama proses pemetaan empat hari tersebut, tim mencocokkan data kajian awal dengan kondisi kerentanan tanah saat ini. Setiap retakan dan titik kemiringan yang mencurigakan diukur secara presisi untuk memetakan seberapa luas zona bahaya yang mengancam permukiman di bawahnya.

Sebagai informasi, fenomena pergeseran tanah hingga likuifaksi di kawasan perbukitan ini tidak terjadi begitu saja. Bencana ini umumnya dipicu oleh kerentanan topografi yang berpadu dengan cuaca ekstrem.

Tingginya intensitas curah hujan membuat pori-pori tanah menjadi sangat jenuh air. Kondisi ini makin fatal jika berada di kemiringan lereng dengan struktur tanah yang gembur. Akibatnya, tanah kehilangan daya ikat mekanisnya dan langsung meluncur menjadi aliran lumpur pekat saat dipicu oleh gravitasi atau debit air yang besar.

Merespons rampungnya proses pemetaan lapangan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Balangan, H Rahmi menegaskan pihaknya menaruh atensi penuh terhadap hasil analisis lanjutan. Ia menyebut data teknis dari lapangan saat ini tengah digodok secara serius.

"Hasil ground check saat ini masih dalam tahap kajian secara komprehensif oleh tim ahli. Kami berharap dalam waktu dekat hasilnya sudah bisa disampaikan, agar bisa segera kami jadikan dasar acuan dalam penentuan langkah mitigasi dan penanggulangan ke depan," kata Rahmi.

Data mutlak dari hasil kajian geologi ini nantinya akan menjadi rekomendasi vital bagi Pemerintah Daerah. Kebijakan tata ruang di kawasan rawan bencana dan strategi penyelamatan warga yang bermukim di jalur rawan Tebing Tinggi akan sangat bergantung pada hasil kajian tersebut guna meminimalkan jatuhnya korban di masa mendatang.

Editor : Fauzan Ridhani
#Likuifaksi #pemicu banjir #Kabupaten Balangan #paringin #tebing tinggi