Memasuki penghujung tahun akademik, banyak mahasiswa mulai dihadapkan pada fase refleksi sekaligus persiapan melangkah ke jenjang berikutnya.
Terlebih bagi mahasiswa semester akhir yang tengah memasuki masa transisi menuju dunia kerja.
Jika tidak dihadapi dengan kesiapan mental, fase tersebut berpotensi memicu kecemasan.
Momentum itu pula yang diangkat dalam Brave the Future bertema “Mengelola Cemas, Menyiapkan Langkah Menuju Masa Depan” yang digelar di Lecture Theater SAC Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Jumat (26/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan pada beasiswa Indonesia Bright Future Leaders (IBFL) Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN).
Program tersebut tak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas akademik mahasiswa, tetapi juga pembentukan karakter dan kesiapan mental menghadapi dinamika kehidupan maupun dunia profesional.
Mahasiswa dinilai tidak cukup hanya memiliki kompetensi, tetapi juga harus mampu mengendalikan diri, mengelola tantangan dan bangkit dari kesulitan yang dibahas oleh tiga pembicara.
Kepala Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA BK) ULM, Ririanti Rachmayanie Jamain, menjelaskan salah satu sumber kecemasan mahasiswa berasal dari tekanan akademik.
Namun, menurutnya, berbagai tugas yang diberikan dosen sejatinya bukan untuk membebani, melainkan menjadi ruang eksplorasi dan pembelajaran.
"Di ruang akademik itu wajar kalau mahasiswa melakukan kesalahan. Mereka masih memiliki dosen pembimbing maupun dosen pengampu yang akan membimbing. Kampus adalah tempat belajar," ujarnya.
Selain tekanan akademik, Ririanti menilai media sosial turut memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.
Fenomena fear of missing out (FOMO) hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membuat banyak mahasiswa mengalami overthinking.
"Itulah kecemasan yang sering kali tidak memiliki wujud. Ketakutan itu muncul karena membandingkan diri dengan standar yang dibentuk media sosial," katanya.
Sementara itu, Psikolog, Laksmi Andhiyani menjelaskan kecemasan merupakan emosi yang dimiliki setiap orang.
Namun, ia mengingatkan pentingnya membedakan antara kecemasan yang wajar dan yang berlebihan.
Menurutnya, rasa cemas masih tergolong normal apabila berkaitan dengan situasi nyata yang akan dihadapi.
Sebaliknya, kecemasan menjadi mengkhawatirkan ketika seseorang terus-menerus memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Yang tidak wajar adalah mencemaskan sesuatu yang belum ada alasannya, misalnya terus memikirkan satu atau dua tahun ke depan tanpa dasar yang jelas. Itu berbeda, ke depan perencanaan masih bisa dibuat karena sifatnya taktis,” jelasnya.
Untuk itu, mahasiswa beasiswa lBFL didorong terlibat sistem kaderisasi secara kompleks.
Ketua YABN, Zuraida Murdia Hamdie, mengatakan pembinaan tersebut lahir dari pengalaman panjang penyelenggaraan beasiswa lBFL yang telah memasuki angkatan keenam sejak 2018.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi sedikitnya tiga tantangan besar, yakni perubahan dunia yang sulit diprediksi, disrupsi teknologi yang memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, serta perbedaan karakter antargenerasi.
Karena itu, program beasiswa IBFL tidak hanya memberikan bantuan biaya kuliah dan biaya hidup.
Para penerima beasiswa juga diwajibkan aktif berorganisasi, mengikuti magang, meraih prestasi di luar akademik, serta mengikuti pembinaan secara berkala.
Bahkan, target IPK harus dipenuhi agar beasiswa tetap berlanjut.
"Menjelang lulus mereka juga kami siapkan menghadapi dunia kerja. Jadi beasiswa ini bukan sekadar membiayai kuliah, tetapi mempersiapkan masa depan mereka," tegasnya.
Ia menekankan, ada tiga kemampuan utama yang harus dimiliki mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja, yakni technical skill, managerial skill dan leadership skill.
Kemampuan tersebut, menurutnya, jauh lebih penting untuk dipersiapkan dibanding terus-menerus mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi.
"Daripada cemas tanpa arah, lebih baik pikirkan apakah tiga kemampuan itu sudah dimiliki atau belum. Organisasi mengajarkan manajerial, kepanitiaan melatih kepemimpinan dan semua itu akan menjadi bekal ketika masuk dunia kerja," tuturnya.
Selain tiga kompetensi tersebut, Zuraida menambahkan kecerdasan emosional (emotional quotient atau EQ) juga menjadi bekal penting.
Dengan empati yang baik, seseorang tidak hanya bekerja secara profesional, tetapi juga mampu membangun lingkungan kerja yang sehat, produktif dan kolaboratif.
Editor : Sutrisno