RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Bom waktu demografi mengintai Kalimantan Selatan (Kalsel). Fenomena pemuda usia produktif yang terjebak dalam status Not in Education, Employment, or Training (NEET)—atau akrab dengan istilah lokal kada singgawian— berada di angka yang mengkhawatirkan. Menjawab tantangan tersebut, sebanyak 475 anak muda di Kalsel bergerak menyodorkan berbagai formula taktis melalui platform basakalimantanwiki.org untuk mengurai benang kusut masalah tersebut.
Fakta mencengangkan terkait potret ketenagakerjaan generasi muda di Banua perlahan mulai tersingkap. Data Badan Pusat Statistik (BPS) sejatinya telah memberi alarm dengan mencatat angka NEET di Kalsel berada di kisaran 18,59 persen.
Namun, temuan terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalsel justru jauh lebih tinggi, yakni menembus rata-rata 21,17 persen.
Jika dibedah per wilayah, Kabupaten Kotabaru menempati posisi tertinggi dengan angka NEET mencapai 29,95 persen.
Sementara tingkat pengangguran pemuda di Kota Banjarmasin bertengger di angka 15,43 persen, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 13,41 persen.
Secara akumulatif, tingkat pengangguran pemuda di Kalsel terkunci pada angka 10,89 persen.
Kondisi ini memicu terjadinya hidden unemployment (pengangguran tersembunyi), di mana banyak pemuda potensial memilih tidak aktif mencari kerja lantaran akses ke pusat ekonomi terlampau jauh dari tempat tinggal mereka.
Merespons urgensi tersebut, Yayasan BASAkalimantan Wiki menggelar "Dialog Kebijakan#1 Isu NEET Kada Singgawian" di Ruang Pangeran Samudera, BPMP Provinsi Kalsel, Banjarbaru, Rabu (24/6).
Langkah ini merupakan kelanjutan dari kompetisi Wikithon Partisipasi Publik #6 yang berhasil menyaring ratusan ide anak muda hingga mengerucut pada empat proposal terbaik.
Selama tiga minggu terakhir, keempat ide tersebut langsung diinkubasi untuk siap diimplementasikan di lapangan.
Local Program Director Basa Kalimantan Wiki, Hudan Nur, mengungkapkan bahwa hasil inkubasi ini mematahkan asumsi klasik. Jika selama ini tingginya kategori NEET selalu dikambinghitamkan pada minimnya lapangan pekerjaan, para pemuda ini justru melihat dari sudut pandang berbeda.
"Tiga dari empat konsep pemenang sepakat bahwa pengentasan NEET di Kalsel harus dimulai dari merombak total mentalitas para pemuda itu sendiri. Jadi, masalahnya bukan sekadar kekurangan lapangan kerja," tegas Hudan saat dikonfirmasi terkait hasil inkubasi program.
Salah satu program konkret yang siap digulirkan adalah pelatihan soft skill terukur yang menyasar langsung kelompok usia produktif di bawah 30 tahun. Sasarannya adalah para lulusan SMA dan SMK yang belum memiliki pekerjaan (gawian) agar memiliki daya saing tinggi.
Sikap kritis anak muda ini memicu perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Kalsel. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menilai gagasan yang lahir dari bawah ini menjadi tamparan sekaligus masukan strategis bagi arah kebijakan pembangunan daerah.
"Gagasan mereka sangat kritis. Anak muda kita tidak lagi berdiam diri melihat persoalan di daerahnya. Ide-ide seperti inilah yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah pembangunan yang gagal diselesaikan dengan cara-cara lama," ujar Tantri.
Di sisi lain, Kepala BRIDA Kalsel, Thaufik Hidayat, memaparkan bahwa potret demografi Kalsel saat ini didominasi oleh kelompok usia pemuda (16–30 tahun) dengan proporsi Gen Z sebesar 28,3 persen dan Milenial sebesar 26,59 persen.
"Penguatan SDM pemuda harus menjadi fondasi utama. Jika persoalan NEET ini dibiarkan, kita berisiko menciptakan generasi yang hilang (lost generation)," papar Thaufik.
Ia juga menambahkan bahwa karakteristik NEET di Kalsel sangat dipengaruhi rendahnya partisipasi perempuan, sehingga ke depan diperlukan model pelatihan kerja yang ramah gender serta dukungan masif bagi wirausaha perempuan muda.
Pemerintah Provinsi bersama Basa Kalimantan Wiki kini berkomitmen penuh untuk mengawal implementasi dari empat program terpilih ini agar menjadi solusi nyata guna menekan angka NEET di Kalimantan Selatan.
Editor : Arif Subekti