RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tanjung - Desa Masingai II Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong ternyata menyimpan banyak budaya di tengah masyarakatnya. Salah satunya budaya Mandi Jamas.
Mandi Jamas adalah ritual yang digelar rutin setial tahun bertepatan 1 Muharam atau 1 Suro pada kalender Suku Jawa.
Masyarakat setempat melakukan aktivitas memandikan atau membersohkan berbagai benda pusaka, serta peralatan budaya tradisional miliknya. Benda-benda itu seperti gamelan dan kuda lumping.
Warga Desa Masingai II sejak dulu banyak dihuni Suku Jawa. Mereka berkumpul dan melakukan budaya tersebut dari tahun ke tahun.
Ketua Paguyuban Kuda Lumping Kridho Mudho Desa Masingai II, Maryadi menjelaskan, Mandi Jamas tradisi yang telah dilaksanakan sejak 1978 atau sekitar 48 tahun lalu.
"Sampai sekarang budaya itu digelar dan menjadi bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur," jelasnya, Rabu (24/6/2026).
Namun, dalam memperingati 1 Suro ini, kegiatan warga tidak dilakukan hanya dengan memandikan benda pusaka dan alat budaya lainnya. Tapi sebelumnya ada beberapa kegiatan yang memeriahkanya.
"Rangkaian kegiatan diawali dengan menggelar selamatan dan tirakat hingga menjelang subuh di malam 1 suro," katanya.
Warga bersama-sama memanjatkan doa sebagai bentuk ikhtiar memohon kesehatan, kelancaran rezeki, serta keselamatan dunia dan akhirat untuk tahun akan datang.
Setelah kedua acara itu, kegiatan ditutup dengan pagelaran seni Kuda Lumping Kridho Mudho selama hampir satu harian. Mulai pukul 14.00 Wita hingga tengah malam.
"Kuda lumping ini bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki nilai sakral, sebab ada masyarakat yang bernazar untuk kesembuhan anaknya," imbuhnya.
Mandi Jamas, selamatan, tirakat dan seni kuda lumping tersebut cukup banyak mengundang perhatian masyarakat untuk terlibat. Mereka paham tradisi itu bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Masingai II. (ibn)
Editor : Arif Subekti