RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Perempuan masih sering menghadapi stigma ketika berada di posisi pemimpin. Tak sedikit yang meragukan kemampuan mereka mengambil keputusan atau membawa perubahan.
Namun, menurut Wakil Wali Kota Banjarmasin, Ananda, kepemimpinan perempuan bukanlah upaya mengambil alih peran laki-laki. Sebaliknya, perempuan hadir untuk melengkapi perspektif dalam proses kepemimpinan.
Pesan tersebut disampaikan Ananda saat menjadi pembicara dalam Seminar Rahasia Branding dan Ketangguhan Wanita dalam Memimpin Perubahan yang digelar Himpunan Mahasiswa Manajemen Pemasaran Internasional (HIMA MPI) Politeknik Hasnur (Polhas) di Wetland Square, Senin (22/6/2026).
Menurut Ananda, perempuan memiliki keunggulan dalam memperhatikan detail yang sering kali luput dari perhatian. Kemampuan itu menjadi nilai tambah dalam menghadirkan pelayanan dan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
"Perempuan sering mampu melihat hal-hal kecil yang justru menentukan kualitas pelayanan. Bukan untuk menggantikan peran laki-laki, tetapi saling melengkapi," ujarnya.
Ia mencontohkan pengalamannya sebagai Wakil Wali Kota Banjarmasin. Dalam menjalankan tugas, dirinya kerap fokus pada persoalan teknis yang langsung dirasakan masyarakat, mulai dari kondisi fasilitas publik hingga lingkungan permukiman.
Bagi Ananda, kepemimpinan sejati tidak semata-mata diukur dari jabatan yang dimiliki. Seorang pemimpin harus mampu membangun kepercayaan, memberi pengaruh positif, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama.
Selain tantangan dari luar, perempuan juga sering menghadapi hambatan terbesar dari dalam diri sendiri, yakni rasa ragu dan kurang percaya diri.
"Banyak perempuan sebenarnya mampu, tetapi tidak berani melangkah karena terlalu banyak keraguan. Padahal peluang sering hilang bukan karena tidak kompeten, melainkan karena takut mencoba," katanya.
Di era digital, Ananda mendorong perempuan untuk membangun personal branding yang otentik. Ia mengingatkan agar media sosial tidak sekadar menjadi ruang pencitraan, melainkan wadah menampilkan karya, pengalaman, dan kompetensi yang dimiliki.
Menurutnya, personal branding yang kuat lahir dari karakter dan kemampuan nyata, bukan dari pencitraan semata.
"Kalau hanya pencitraan, itu melelahkan dan tidak akan bertahan lama. Bangun reputasi melalui karya dan kompetensi," tegasnya.
Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn sebagai portofolio yang dapat membuka berbagai peluang di masa depan.
Tak hanya itu, kemampuan komunikasi juga menjadi bekal penting yang harus dimiliki perempuan. Mulai dari keterampilan menulis, berbicara di depan publik, hingga kemampuan bercerita atau storytelling.
Menurut Ananda, gagasan terbaik sekalipun tidak akan memberi dampak jika tidak mampu disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
"Ide yang luar biasa bisa kalah oleh ide biasa yang dikomunikasikan lebih baik. Karena itu, terus tingkatkan kemampuan komunikasi agar nilai diri ikut meningkat," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Umum HIMA MPI Polhas, Muhammad Irfan, mengatakan mahasiswa membutuhkan bekal lebih dari sekadar kemampuan akademik untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Salah satu bekal penting tersebut adalah kemampuan membangun personal branding yang positif dan profesional.
"Personal branding bukan soal pencitraan, tetapi bagaimana menunjukkan kompetensi, nilai, dan rekam jejak yang dimiliki kepada publik," jelasnya.
Irfan menilai sosok Ananda menjadi contoh nyata figur perempuan yang berhasil membangun personal branding secara positif, terutama dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan keterlibatan generasi muda.
Ia berharap pengalaman yang dibagikan Ananda dapat menginspirasi mahasiswa, khususnya mahasiswi, untuk lebih percaya diri menunjukkan karya, prestasi, dan kemampuan yang dimiliki.
"Melalui personal branding yang baik, perempuan bisa membuka lebih banyak peluang, menjadi inspirasi bagi sesama, sekaligus mematahkan stigma bahwa perempuan tidak mampu menjadi pemimpin," tutupnya.
Editor : Eddy Hardiyanto