Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Meski Sudah Panen, Program Padi Apung di Banjar Belum Banyak Dilirik Petani

M Fadlan Zakiri • Minggu, 21 Juni 2026 | 15:27 WIB
JADI SOLUSI: Media tanam padi apung menggunakan rakit styrofoam di lahan pertanian yang tergenang banjir Desa Sungai Pinang Lama, kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. (DISTAN BANJAR)
JADI SOLUSI: Media tanam padi apung menggunakan rakit styrofoam di lahan pertanian yang tergenang banjir Desa Sungai Pinang Lama, kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. (DISTAN BANJAR)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  Martapura - Program Padi Apung yang dikembangkan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar mulai membuktikan hasilnya sebagai solusi pertanian di wilayah rawan banjir. 

Di Desa Sungai Pinang Lama, Kecamatan Sungai Tabuk, kelompok tani bahkan telah berhasil melakukan panen perdana pada awal 2026 dengan produktivitas sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram gabah dari setiap unit media tanam terapung.

Namun di balik keberhasilan tersebut, program ini masih belum banyak diminati petani. 

Tingginya biaya penyediaan media tanam dan besarnya risiko serangan hama membuat sebagian besar petani tetap memilih bertani secara konvensional.

Saat ini, program padi apung baru dijalankan di dua desa, yakni Desa Sungai Pinang Lama, Kecamatan Sungai Tabuk dan Desa Alimpung, Kecamatan Aranio. 

Kedua wilayah tersebut dipilih karena memiliki lahan pertanian yang kerap terendam dalam waktu lama sehingga sulit ditanami menggunakan metode biasa.

Kepala Distan Kabupaten Banjar Warsita melalui Kabid Sarana Tanaman Pangan Hortikultura (TPH), Perkebunan dan Peternakan, Nurul Chatimah mengatakan, padi apung memang disiapkan sebagai alternatif bagi petani yang lahannya terendam hampir sepanjang tahun.

“Padi apung ini memang dikhususkan sebagai alternatif jika lahan terendam sepanjang tahun,” ujarnya.

Program tersebut mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan melalui bantuan 1.000 unit styrofoam dan bibit padi unggul yang disalurkan pada Desember 2025. 

Sebanyak 750 unit dialokasikan ke Desa Sungai Pinang Lama, sedangkan 250 unit lainnya diberikan kepada Desa Alimpung.

Dalam penerapannya, setiap unit styrofoam berukuran 2 x 1 meter digunakan sebagai rakit tanam yang memuat 21 polybag. 

Media tersebut memungkinkan tanaman padi tetap tumbuh meski lahan berada dalam kondisi tergenang.

Nurul menjelaskan, Desa Sungai Pinang Lama telah berhasil menyelesaikan satu kali musim tanam dan panen. 

Sementara kelompok tani di Desa Alimpung baru memulai penanaman pada April 2026 dan masih menunggu masa panen.

Meski menunjukkan prospek yang cukup baik untuk kawasan rawan banjir, pengembangan padi apung masih menghadapi sejumlah tantangan. 

Biaya pengadaan styrofoam sebagai media tanam menjadi komponen terbesar dalam budidaya tersebut. 

Selain itu, petani juga membutuhkan tanah dalam jumlah cukup banyak untuk mengisi polybag.

“Kendala itu disiasati kelompok tani di Desa Sungai Pinang Lama dengan memanfaatkan lumpur dari dasar sungai sebagai media tanam,” jelas Nurul. 

Tantangan lain datang dari serangan hama yang lebih tinggi dibanding pertanian konvensional. 

Saat lahan pertanian di sekitarnya terendam dan tidak ditanami, rakit padi apung menjadi satu-satunya sumber makanan bagi hama seperti tikus dan burung.

“Tikus bahkan bisa berenang menuju media tanam. Karena itu serangan hama pada padi apung cenderung lebih terpusat,” jelas Nurul.

Untuk meningkatkan nilai ekonomi program tersebut, Distan Banjar mendorong petani menanam varietas yang memiliki harga jual lebih tinggi dibanding varietas unggul standar seperti Inpari 32. 

Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain Siam Madu, Siam Cantik dan beras merah.

Langkah itu dinilai penting karena harga gabah varietas unggul standar yang dijual ke Bulog hanya berkisar Rp6.500 per kilogram.

Alhasil, margin keuntungan petani relatif tipis jika dibandingkan dengan biaya produksi padi apung.

Nurul berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan sebagai solusi bagi lahan pertanian rawan banjir, sekaligus menjaga produktivitas dan ketahanan pangan daerah saat lahan sawah tidak memungkinkan untuk ditanami secara konvensional.

“Kalau dikembangkan dengan varietas yang tepat, padi apung bisa menjadi alternatif agar petani tetap berproduksi meski lahannya terendam banjir,” pungkasnya.

Editor : Arif Subekti
#metode tanam #padi apung #pertanian #Banjar