Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wamenko Pangan Tinjau Program SISKA di Tanah Bumbu, Dinilai Berpotensi Kurangi Impor Daging

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Rabu, 17 Juni 2026 | 10:34 WIB
MENINJAU: Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq meninjau peternakan sapi terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit dalam program SISKA di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. (Foto: DiskominfoSP Tanah Bumbu)
MENINJAU: Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq meninjau peternakan sapi terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit dalam program SISKA di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. (Foto: DiskominfoSP Tanah Bumbu)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq meninjau Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) di areal perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Selasa (16/6/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Hanif menilai integrasi usaha perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan populasi ternak nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi.

Menurut Hanif, program yang dijalankan PT Buana Karya Bhakti menunjukkan hasil positif. Populasi sapi yang awalnya sekitar 300 ekor pada 2016 kini berkembang menjadi hampir 1.500 ekor melalui sistem pembiakan alami.

Ia mengatakan model tersebut layak dikembangkan karena mampu memanfaatkan lahan perkebunan secara lebih produktif sekaligus mendukung ketersediaan sumber protein hewani.

"Kami melihat ini sebagai model yang potensial untuk diperluas karena terbukti mampu meningkatkan populasi sapi secara berkelanjutan," ujarnya.

Hanif menyebut Kalimantan Selatan memiliki peluang besar mengembangkan integrasi sawit dan sapi. Dari sekitar 480 ribu hektare kebun sawit yang ada, sekitar 250 ribu hektare dinilai berpotensi digunakan untuk pengembangan peternakan sapi.

Jika potensi tersebut dimanfaatkan, kata dia, kapasitas pemeliharaan ternak dapat mencapai sekitar 20 ribu ekor, sehingga membantu memenuhi kebutuhan sapi di Kalimantan Selatan yang masih mengalami kekurangan pasokan.

Secara nasional, luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai lebih dari 17 juta hektare juga dinilai membuka peluang pengembangan populasi sapi dalam jumlah besar melalui konsep serupa.

Saat ini kebutuhan daging sapi nasional diperkirakan mencapai 800 ribu ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri baru sekitar 400 ribu ton. Selisih kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor dari sejumlah negara.

Selain meningkatkan populasi ternak, integrasi sawit dan sapi juga dinilai memberikan keuntungan bagi sektor perkebunan. Keberadaan sapi membantu mengendalikan gulma di area kebun sekaligus menghasilkan pupuk organik dari kotoran ternak.

Sementara itu, Ranch Manager PT Buana Karya Bhakti Wahyu Darsono mengatakan perusahaan memulai program SISKA pada 2016 dengan mendatangkan 300 ekor sapi dan membangun sarana pendukung peternakan.

Menurutnya, populasi ternak saat ini mencapai sekitar 1.500 ekor. Sapi jantan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sedangkan sapi betina dipertahankan sebagai indukan guna menjaga pertumbuhan populasi.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan Suparmi menambahkan program SISKA yang dijalankan PT Buana Karya Bhakti telah ditetapkan Kementerian Pertanian sebagai model pengembangan integrasi sawit dan sapi tingkat nasional.

Ia berharap kunjungan Wamenko Pangan dapat mendorong perluasan program serupa melalui kerja sama pemerintah, perusahaan perkebunan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat ketahanan pangan hewani.

Editor : Sutrisno
#daging #pangan #Tanah Bumbu #batulicin