RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Komplek Kubur Besar di Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu, seketika diselimuti suasana khidmat, Selasa (16/6/) siang.
Bertepatan dengan momentum 1 Muharam 1448 Hijriah, banyak jamaah datang dari berbagai penjuru merapatkan barisan dalam peringatan Haul Jama ke-15 Raja-Raja Cantung.
Di balik lantunan doa yang menggema, prosesi tahunan ini memantik kembali memori kolektif tentang silsilah penting sejarah peradaban di Bumi Saijaan.
Situs pemakaman ini bukan sekadar area nisan tua. Di sinilah tersimpan rekam jejak geopolitik kerajaan masa lampau yang menghubungkan kepingan sejarah besar di Pulau Kalimantan.
Kepala Desa Banua Lawas, Miyardi, membeberkan bahwa komplek makam legendaris ini memiliki keterkaitan emosional dan historis yang sangat erat dengan trah Kesultanan Banjar.
Menariknya, para leluhur yang bersemayam di tanah Banua Lawas ini mewariskan silsilah dari tiga penjuru mata angin Nusantara.
Miyardi menyebutkan, terdapat perpaduan darah antara Jawa, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur pada sosok-sosok yang dimakamkan di sana.
“Salah satu tokoh utama di sini dikenal dengan gelar ‘Aji’. Sematan gelar tersebut menjadi bukti sahih adanya hubungan kekerabatan yang sangat kuat dengan lingkungan Kerajaan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur,” ungkap Miyardi di sela-sela kegiatan.
Sebagai situs yang memuat nilai historis tinggi, penataan kawasan makam mulai digenjot secara masif.
Sejak dilantik menjadi kepala desa, Miyardi langsung tancap gas melakukan pembenahan awal dalam 100 hari kerja pertamanya melalui sokongan dana dari pemerintah daerah, provinsi, hingga kawalan legislatif DPRD Kotabaru.
Langkah ini seirama dengan target besar Kecamatan Kelumpang Hulu.
Camat Kelumpang Hulu, Rahmatullah, membidik kawasan makam Raja-Raja Cantung ini untuk naik kelas menjadi salah satu destinasi wisata religi dan pusat edukasi sejarah unggulan di Kabupaten Kotabaru.
“Potensinya sebagai pusat edukasi sejarah sangat besar. Namun, tantangan ke depan adalah pembenahan infrastruktur jalan menuju lokasi serta fasilitas pendukung yang mumpuni agar peziarah dari luar daerah semakin nyaman,” kata Rahmatullah.
Sementara, Staf Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru, Adi Priyanto, menegaskan bahwa status kawasan Sabanua Lawas saat ini tercatat sebagai Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB).
Pemerintah daerah kini sedang mengumpulkan data otentik agar situs Banua Lawas bisa menyusul kesuksesan Makam Raja Agung dan Makam Raja Ikan yang tahun ini resmi mengantongi status cagar budaya tingkat provinsi.
“Tahun depan situs Banua Lawas akan kami ajukan dalam sidang penetapan cagar budaya tingkat provinsi. Jika status hukum ini sudah di tangan, program pelestarian akan jauh lebih luas, termasuk menyusun buku sejarah resminya agar identitas banua ini tidak punah ditelan zaman,” tutupnya.
Editor : M Oscar Fraby