Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Meretas Sunyi di Puncak Meratus, Para Guru di HST Boleh Gunakan Dana BOS untuk Bayar Starlink

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Senin, 15 Juni 2026 | 08:05 WIB
ilustrasi
ilustrasi

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Kesunyian yang selama ini melekat di Desa Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah (HST), perlahan berubah. Di salah satu desa tertinggi di Pegunungan Meratus itu, riuh suara siswa SDN Juhu kini tak hanya terdengar saat jam istirahat. Mereka juga sibuk menjelajahi dunia digital melalui jaringan internet yang baru hadir dalam setahun terakhir.

Bagi Jamaluddin Rahmat, guru SDN Juhu, pemandangan tersebut merupakan kemajuan besar. Selama bertahun-tahun, sekolah yang berada di jantung Meratus itu hidup dalam keterisolasian. Akses menuju sekolah hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama berjam-jam melewati hutan dan jalur pegunungan.

Keterbatasan itu paling terasa ketika pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Bukan soal kesiapan siswa yang menjadi kendala, melainkan ketiadaan sinyal internet. Agar dapat mengikuti ujian, para siswa harus meninggalkan desa dan mencari lokasi yang memiliki jaringan seluler. “Dulu anak-anak harus turun gunung jauh dari kediaman untuk mencari sinyal,” kenang Jamaluddin.

Baca Juga: 201 Desa di Kalsel Masih Blank Spot, Akses Informasi Warga Terhambat

Kondisi tersebut berubah sejak perangkat internet satelit Starlink dipasang di sekolah. Kehadiran teknologi itu menjadi jembatan yang menghubungkan Desa Juhu dengan dunia luar sekaligus membuka akses informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Manfaatnya langsung dirasakan dalam kegiatan belajar mengajar. Selain mempermudah pelaksanaan ANBK, siswa kini dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran daring yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan.

Namun, menghadirkan internet di wilayah terpencil bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah biaya operasional yang relatif tinggi.

Pada Juli hingga Desember 2024, para guru SDN Juhu bahkan harus menggunakan dana pribadi untuk membayar tagihan layanan internet karena belum tersedia aturan yang mengakomodasi pembiayaan tersebut.

Situasi itu akhirnya berubah setelah Pemerintah Kabupaten HST menerbitkan regulasi yang memungkinkan biaya internet satelit dibebankan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Pemkab HST telah membuat regulasi agar Starlink dapat dibiayai dari dana BOS. Saat ini di aplikasi ARKAS sudah ada menu pembiayaan Starlink. Regulasi itu ada sejak awal 2025 tadi,” ujar Jamaluddin.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo SP) HST Darkuni mengatakan, penanganan wilayah blank spot kini menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Berdasarkan data terbaru, masih terdapat 21 desa yang masuk kategori blank spot dan tersebar di tujuh kecamatan.

Menurutnya, Kecamatan Batang Alai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling menantang karena kondisi geografisnya yang didominasi kawasan pegunungan. “Hingga tahun 2026, sebanyak 33 sekolah di Hulu Sungai Tengah telah mendapatkan layanan internet satelit Starlink,” katanya.
Selain memanfaatkan Starlink, pemerintah daerah juga mengandalkan 81 titik layanan internet satelit BAKTI dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit dilayani jaringan fiber optik maupun menara telekomunikasi.

Meski demikian, persoalan konektivitas di pedalaman belum sepenuhnya selesai. Tantangan berikutnya adalah ketersediaan listrik. Sejumlah sekolah masih belum dapat memanfaatkan internet satelit karena belum memiliki pasokan listrik yang memadai.

Darkuni menyebut beberapa sekolah yang masih menghadapi kendala tersebut antara lain SDN Haruyan Dayak, SDN Batu Perahu, dan SDN Aing Bantai. Di lokasi itu, perangkat komputer untuk ANBK belum dapat digunakan secara optimal karena keterbatasan sumber energi.

“Kehadiran jaringan internet yang merata berperan penting dalam peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan publik, hingga pertumbuhan ekonomi daerah,” tegas Darkuni.

Bagi para siswa SDN Juhu, internet bukan sekadar fasilitas teknologi. Kehadirannya menjadi jendela yang memperlihatkan dunia di luar Pegunungan Meratus dan membuka peluang belajar yang lebih luas. 

Baca Juga: 201 Desa di Kalsel Masih Blank Spot, Akses Informasi Warga Terhambat

Editor: Arif Subekti

Editor : Arief
#daerah tertinggal #hulu sungai tengah #Meratus #Guru #Pendidikan