RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Harga jual mentimun di tingkat petani di Kabupaten Balangan mengalami penurunan drastis. Saat ini, harganya terjun bebas hingga menyentuh angka Rp1.500 per kilogram akibat panen serentak dan faktor cuaca yang memengaruhi kualitas produksi.
Petani timun asal Balangan, Rahmani, mengungkapkan bahwa tren penurunan harga ini sudah mulai terasa sejak momen Lebaran Iduladha lalu dan grafiknya terus merosot hingga pertengahan Juni ini.
"Harga Rp1.500 per kilogram itu untuk timun kualitas bagus. Sedangkan untuk timun yang pikung (bentuknya tidak ideal), terpaksa kami jual borongan seharga Rp10.000 per kantong kresek besar," ungkapnya, Jum'at (12/6).
Menurut Rahmani, anjloknya harga timun di pasaran ditengarai oleh melimpahnya stok karena banyak petani yang panen berbarengan. Selain itu, faktor cuaca yang tidak menentu belakangan ini juga turut memengaruhi kualitas hasil pertanian, sehingga persentase buah timun yang gagal bentuk menjadi lebih banyak.
Kondisi ini tentu menjadi keluhan bagi Rahmani yang masih terhitung sebagai petani timun pendatang baru. Sebelumnya, lahan pertanian miliknya sempat ditanami komoditas terong asam dan cabai. Namun, sejak awal tahun tadi ia memilih banting setir menanam timun.
"Dalam kurun waktu tiga bulan belakangan, saya sudah panen 11 kali. Kami pernah menjual timun sampai menembus angka Rp8.000 per kilogram. Idealnya, harga normal timun itu di kisaran Rp5.000 sampai Rp8.000 per kilogram," jelasnya.
Dengan harga Rp1.500 per kilogram, ia mengaku pemasukan dari hasil panen sejatinya masih bisa menutupi biaya ongkos produksi dan perawatan harian. Namun, angka tersebut hanya sekadar pas-pasan.
"Hitungannya memang masih tertutupi untuk balik modal, tapi itu sudah pas-pasan sekali. Keuntungannya tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," tuturnya.
Di tengah situasi ini, Rahmani berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk membantu mencarikan solusi akses pasar yang lebih luas saat stok panen melimpah.
Ia juga berharap adanya penyuluhan terkait pengolahan pascapanen agar timun yang kualitasnya kurang bagus (pikung) tetap memiliki nilai jual dan tidak terbuang percuma.
Editor : Arif Subekti