RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Barabai - Pedagang minyak goreng di Pasar Keramat Barabai mengeluhkan pasokan MinyaKita yang dinilai tidak menentu.
Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang terpaksa mencari pasokan dari agen lain dengan harga yang jauh lebih tinggi agar kebutuhan pembeli tetap terpenuhi.
Salah seorang pedagang di Pasar Keramat Barabai, Fauzan, mengatakan dalam kondisi normal dirinya menerima sekitar 45 dus MinyaKita kemasan dua liter dalam satu kali distribusi. Setiap dus berisi enam kemasan minyak goreng.
Namun, pada waktu tertentu jumlah pasokan yang diterimanya mengalami penurunan cukup signifikan. Dalam sepekan, distribusi yang datang terkadang hanya sekitar 25 dus.
“Kadang pasokannya berkurang. Tidak selalu sama jumlahnya,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Fauzan, MinyaKita kemasan satu liter juga semakin jarang tersedia dibandingkan sebelumnya. Saat ini distribusi yang datang lebih banyak berupa kemasan dua liter.
“Yang satu liter sudah jarang dikirim. Yang datang kebanyakan dua liter,” katanya.
Keterbatasan pasokan tersebut membuat sebagian pedagang harus mencari tambahan stok dari jalur lain ketika persediaan dari distributor resmi habis. Namun harga yang diperoleh dari agen non-reguler jauh lebih tinggi dibandingkan pasokan resmi.
Fauzan menjelaskan, harga MinyaKita dari distributor resmi sekitar Rp174 ribu per dus. Sementara apabila membeli dari agen lain, harganya bisa mencapai Rp250 ribu per dus.
“Kalau dari distributor resmi sekitar Rp174 ribu per dus. Kalau ambil dari agen bisa sampai Rp250 ribu per dus, jadi kami jual Rp22 ribu per liter,” ujarnya.
Ia menilai perbedaan harga modal yang cukup besar tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga jual di tingkat pedagang, terutama saat pasokan resmi tidak mencukupi kebutuhan pasar.
Meski demikian, permintaan masyarakat terhadap MinyaKita masih tergolong tinggi karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah merek minyak goreng lainnya yang beredar di pasaran.
Pedagang berharap distribusi MinyaKita dapat berjalan lebih lancar dan jumlah pasokan yang diterima lebih stabil, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa harus bergantung pada pasokan dari agen dengan harga yang lebih mahal.
Di sisi lain, Dinas Perdagangan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mulai memperketat pengawasan penjualan MinyaKita di sejumlah kios.
Kepala Dinas Perdagangan HST, Irfan Sunarko mengatakan pengawasan dilakukan untuk memastikan MinyaKita yang dijual oleh kios penyalur resmi tetap sesuai ketentuan pemerintah.
Menurutnya, monitoring dan pengawasan dilakukan dengan menempatkan petugas di sejumlah kios penyalur resmi MinyaKita yang menjadi mitra Bulog.
“Monitoring dan pengawasan ini dilakukan untuk menjawab isu yang beredar terkait harga MinyaKita yang melebihi HET,” pungkasnya.
Editor : M Oscar Fraby