RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Kesabaran kelompok pembudidaya ikan di Desa Lok Baintan Luar, Kecamatan Sungai Tabuk, berbuah hasil.
Setelah sekitar tujuh bulan menjalani masa pemeliharaan, mereka berhasil melaksanakan panen perdana ikan papuyu dari kolam bundar dengan hasil diperkirakan mencapai 200 hingga 300 kilogram.
Panen tersebut menjadi capaian penting bagi para pembudidaya. Sebab, selama proses budidaya mereka sempat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca hingga serangan penyakit pada ikan.
Pembudidaya ikan papuyu, Aidi Rahman, mengaku sempat khawatir ketika cuaca yang tidak menentu menyebabkan sebagian ikan terserang penyakit. Kondisi itu membuat pertumbuhan ikan terganggu dan berpotensi menurunkan hasil panen.
“Waktu cuaca sering berubah, kadang hujan lalu panas terik, beberapa ikan terserang penyakit. Kami sempat khawatir karena ini pertama kali mencoba sistem kolam bundar,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan panen perdana tersebut menjadi bukti bahwa budidaya papuyu dengan sistem kolam bundar memiliki prospek yang menjanjikan. Selain lebih mudah dikelola, sistem tersebut juga dapat diterapkan pada lahan yang tidak terlalu luas.
“Alhamdulillah hasilnya cukup bagus untuk panen pertama. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mengembangkan budidaya papuyu,” katanya.
Sebagian hasil panen, lanjut dia, akan diputar kembali untuk membeli bibit dan menunjang pengembangan usaha budidaya berikutnya.
“Hasilnya nanti akan kami gunakan lagi untuk penambahan bibit dan pengembangan kolam agar produksi bisa lebih meningkat,” tambahnya.
Aidi menjelaskan, perubahan cuaca yang terjadi selama masa pemeliharaan menjadi tantangan terbesar bagi kelompok pembudidaya.
Peralihan cuaca dari hujan ke panas menyebabkan sejumlah ikan terserang penyakit.
Namun, kendala tersebut dapat diatasi berkat pendampingan dan bantuan obat-obatan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar.
Menurutnya, keberhasilan melewati fase tersebut menjadi pengalaman berharga dalam mengembangkan budidaya papuyu secara lebih profesional.
“Papuyu ini banyak dicari masyarakat. Harapan kami ke depan produksinya bisa lebih banyak sehingga tidak hanya menambah penghasilan kelompok, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga lainnya,” ucap Aidi.
Kolam Bundar Dinilai Lebih Efisien
Budidaya papuyu menggunakan kolam bundar merupakan bagian dari program Intan Sikapayu (Inovasi Tangguh Sinergis Kampung Ikan Papuyu) yang dikembangkan DKPP Kabupaten Banjar.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Banjar, Bandi Chairullah, mengatakan kolam bundar merupakan pengembangan dari sistem budidaya kolam tanah yang selama ini umum digunakan masyarakat.
Menurutnya, model tersebut lebih efisien karena dapat diterapkan di lahan terbatas dengan biaya yang relatif terjangkau.
“Budidaya model ini bisa diterapkan pada skala rumah tangga dengan halaman yang tidak terlalu luas serta biaya yang relatif lebih terjangkau,” ujarnya.
Selain itu, kolam bundar dinilai lebih adaptif terhadap perubahan cuaca dan risiko bencana seperti banjir maupun kekeringan. Pengelolaan air yang lebih mudah membuat tingkat risiko kegagalan budidaya dapat ditekan.
“Kolam bundar ini menjadi salah satu solusi untuk memitigasi risiko bencana seperti banjir dan kekeringan. Pengelolaan air lebih mudah dan kebutuhan air juga tidak terlalu besar,” jelasnya.
Bandi mengungkapkan, program Intan Sikapayu saat ini telah direplikasi di sekitar 10 desa di Kabupaten Banjar.
Dan Lok Baintan Luar menjadi salah satu desa yang menerapkan budidaya papuyu dengan model kolam bundar secara intensif.
Ia menilai hasil panen perdana sebesar 200 hingga 300 kilogram merupakan capaian yang cukup baik mengingat budidaya masih berada pada tahap adaptasi teknologi.
“Panen ini merupakan hasil yang cukup baik karena proses transformasi dari kolam tanah ke kolam bundar memang memiliki tantangan tersendiri,” katanya.
DPRD Dorong Budidaya Berkelanjutan
Dukungan terhadap pengembangan ikan papuyu juga datang dari Komisi II DPRD Kabupaten Banjar. Anggota Komisi II, M. Zaini, berharap sebagian hasil panen dapat dimanfaatkan sebagai indukan dan sumber benih agar keberlanjutan budidaya tetap terjaga.
“Harapan kami setelah dipanen sebagian bisa dijadikan indukan atau bibit agar budidaya ini terus berlanjut dan berkembang. Jangan sampai berhenti hanya pada panen pertama saja,” ujarnya.
Menurut Zaini, ikan papuyu memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus cita rasa khas yang menjadi salah satu keunggulan perikanan lokal Kabupaten Banjar.
“Panen perdana ini membuktikan bahwa budidaya papuyu tetap bisa berkembang meski di lahan terbatas. Yang terpenting adalah menjaga keberlanjutannya agar mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor : M Oscar Fraby