RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU– Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp 17.000 per liter yang berlaku mulai Rabu (10/6) hari ini, langsung memicu respons dari masyarakat di Kota Banjarbaru.
Kenaikan harga yang cukup signifikan ini memaksa para pemilik kendaraan bermotor memutar otak demi menyiasati pembengkakan biaya transportasi harian.
Pantauan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Banjarbaru menunjukkan aktivitas pengisian BBM berjalan normal, namun riak keluhan mulai terdengar dari para konsumen setia Pertamax.
Mereka mengaku berat, tetapi sebagian besar merasa tidak memiliki pilihan lain.
Herdi, salah seorang karyawan swasta di Banjarbaru, mengungkapkan bahwa mobilitas kerjanya yang tinggi tidak memungkinkan dirinya untuk berpaling dari Pertamax. Spesifikasi motor yang digunakannya sehari-hari menuntut BBM dengan oktan tinggi (RON 92).
"Motor yang saya pakai untuk bekerja memang cocoknya Pertamax. Kalau dipaksa memakai BBM dengan oktan lebih rendah, performanya kurang bagus dan mesin kadang bermasalah. Jadi mau tidak mau tetap harus isi Pertamax, meski pengeluaran bulanan jelas bertambah," keluhnya saat ditemui usai mengisi BBM.
Dampak ini juga menyasar kalangan ibu rumah tangga. Maulida, warga Banjarbaru yang menunggangi mobil keluaran anyar, mengaku terjebak pada dilema spesifikasi pabrikan.
Rekomendasi kendaraan modern yang mewajibkan pasokan RON 92 membuatnya tidak berani berspekulasi melirik Pertalite.
"Daripada memaksakan menggunakan BBM yang tidak sesuai dan berisiko merusak mesin, saya tetap memilih mengikuti rekomendasi pabrikan. Efeknya, sekarang harus lebih cermat dan ketat lagi mengatur anggaran dapur," akunya.
Jika para pemilik kendaraan pribadi memilih bertahan demi performa mesin, kondisi berbeda justru dialami oleh para pekerja sektor informal di jalanan.
Bagi para pengemudi ojek online (ojol), kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 17.000 per liter adalah pukulan telak yang menyudahi loyalitas mereka pada BBM nonsubsidi tersebut.
Abizar, salah seorang driver ojol yang biasa beroperasi di area perkotaan Banjarbaru, secara blak-blakan mengaku kecewa dengan kebijakan baru ini.
Padahal, selama ini dirinya merupakan pengguna setia Pertamax demi menjaga keawetan motor matic-nya yang menjadi ladang mencari nafkah.
"Sebagai driver online di Banjarbaru, jujur saya kecewa. Dengan keluarnya harga Pertamax yang baru ini, otomatis saya langsung beralih ke Pertalite," ujar Abizar dengan nada pasrah.
Bagi Abizar dan rekan sejawatnya, kalkulasi untung-rugi di tengah kondisi ekonomi yang sulit saat ini menjadi pertimbangan utama.
Bertahan dengan Pertamax di angka Rp 17.000 per liter dianggap bakal menggerus pendapatan bersih mereka yang tak seberapa.
"Pertalite sekarang jadi opsi terbaik karena harganya lebih terjangkau untuk kantong kami. Kalau dipaksakan beli Pertamax, harganya sudah tidak terjangkau lagi dengan kondisi tarikan (orderan) sekarang," tambahnya.
Ia pun berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap dampak domino di akar rumput, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan hidup di jalan raya.
"Kiranya pemerintah bisa memperhatikan lagi bagaimana nasib rakyat yang bekerja di jalanan seperti kami ini," pungkasnya.
Editor : Arif Subekti