Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cegah Stunting Melalui Edukasi Anemia ke Orang Tua dan Guru

Nurhidayat • Rabu, 10 Juni 2026 | 03:28 WIB
BERSAMA: Tim dosen Jurusan Teknologi Laboratorium Medis berfoto bersama orang tua siswa, guru SMPN 3 Banjarbaru dan tim PKPR Puskesmas usai kegiatan edukasi pencegahan anemia dan stunting.
BERSAMA: Tim dosen Jurusan Teknologi Laboratorium Medis berfoto bersama orang tua siswa, guru SMPN 3 Banjarbaru dan tim PKPR Puskesmas usai kegiatan edukasi pencegahan anemia dan stunting.

BANJARBARU – Tim dosen Jurusan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Edukasi Bebas Anemia untuk Cegah Stunting Remaja Putri pada Orang Tua dan Guru SMPN 3 Banjarbaru Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Kegiatan ini melibatkan 30 orang tua, 8 guru, 26 siswi, serta didukung pihak sekolah dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Rawat Inap Cempaka.

Tim PkM diketuai oleh Neni Oktiyani, S.Pd., M.Sc., dengan anggota Wahdah Norsiah, S.Pd., M.Si. dan Aima Insana, S.Si., M.Si., serta melibatkan mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Kepala SMPN 3 Banjarbaru Erda Murniasih, S.Pd., M.Pd., Penanggung Jawab UKS M. Isnaini, S.Pd., dan Tim PKPR Puskesmas Rawat Inap Cempaka.

Ketua Tim PkM, Neni Oktiyani, menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi pada remaja putri merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius karena berhubungan dengan risiko melahirkan generasi stunting di masa depan.

“Pencegahan stunting harus dimulai sejak remaja. Karena itu, kami memfokuskan edukasi kepada orang tua dan guru agar mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mendeteksi gejala anemia serta mendampingi konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin,” ujarnya.

Ia mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi masih belum optimalnya keterlibatan orang tua dan guru dalam pengawasan pencegahan anemia pada remaja putri. Padahal, dukungan keluarga dan sekolah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program kesehatan remaja.

Program dilaksanakan melalui tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan edukasi kepada orang tua dan guru melalui pre-test dan post-test, serta monitoring dan evaluasi. Materi yang diberikan mencakup edukasi stunting, anemia, pelatihan deteksi dini gejala anemia, hingga strategi pengawasan konsumsi TTD.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta. Nilai rata-rata pengetahuan orang tua dan guru meningkat dari 86,84 pada saat pre-test menjadi 93,16 setelah mengikuti edukasi.

Sementara itu, pada siswi dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) sebanyak dua kali menggunakan alat Point of Care Testing (POCT). Pemeriksaan awal menunjukkan seluruh siswi atau 100 persen memiliki kadar Hb di bawah normal.


MOMEN: Tim dosen dan mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis berfoto bersama siswi SMPN 3 Banjarbaru dalam kegiatan pemeriksaan hemoglobin dan intervensi pemberian Tablet Tambah Darah
MOMEN: Tim dosen dan mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis berfoto bersama siswi SMPN 3 Banjarbaru dalam kegiatan pemeriksaan hemoglobin dan intervensi pemberian Tablet Tambah Darah 

Berdasarkan hasil tersebut, Tim PKPR Puskesmas Rawat Inap Cempaka memberikan Tablet Tambah Darah untuk dikonsumsi secara rutin selama satu bulan dengan pengawasan orang tua di rumah dan guru di sekolah.

Setelah intervensi, pemeriksaan Hb kembali dilakukan. Hasilnya menunjukkan sebanyak 20 siswi atau 77 persen mengalami peningkatan kadar Hb hingga mencapai kategori normal. Sementara enam siswi lainnya atau 23 persen masih memerlukan pendampingan lebih lanjut agar lebih konsisten mengonsumsi TTD dan menjaga pola makan bergizi.

Menurut Neni, hasil tersebut membuktikan bahwa keterlibatan aktif orang tua dan guru sebagai pendamping kesehatan remaja mampu memberikan dampak positif terhadap upaya pencegahan anemia.

“Peran keluarga dan sekolah sangat menentukan. Kami berharap pengawasan konsumsi TTD dan pemenuhan asupan gizi seimbang dapat terus dilakukan agar angka anemia pada remaja putri semakin menurun,” katanya.

Ke depan, pihak sekolah diharapkan terus mengoptimalkan program Aksi Bergizi dan penggunaan kartu kontrol TTD. Sementara orang tua didorong untuk meningkatkan pemberian makanan sumber zat besi, terutama protein hewani, guna mendukung kesehatan remaja putri dan mencegah stunting sejak dini.

Editor : Nurhidayat
#Pengabdian kepada masyarakat #Poltekkes Kemenkes Banjarmasin #banjarbaru