RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN - Kenaikan harga karet membawa angin segar bagi para pekebun di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Di tengah melonjaknya harga berbagai kebutuhan pokok, harga jual karet yang kini mencapai Rp11.000 hingga Rp15.500 per kilogram menjadi harapan baru bagi peningkatan pendapatan pekebun.
Berdasarkan pantauan di sejumlah wilayah HSS, Senin (9/6/2026), harga karet di tingkat pekebun mengalami kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah seorang pekebun karet di Kecamatan Padang Batung, Ansari, mengatakan kenaikan harga tersebut sangat membantu menopang ekonomi keluarga.
"Harga karet sekarang berkisar Rp11.000 sampai Rp15.500 per kilogram di daerah kami. Ini sangat membantu karena harga kebutuhan sehari-hari juga terus naik," ujarnya.
Namun, di balik membaiknya harga jual, pekebun masih dihadapkan pada tantangan musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah HSS. Cuaca kering menyebabkan produksi getah menurun karena kandungan air di dalam pohon berkurang.
Saat kemarau, getah karet menjadi lebih kental sehingga alirannya melambat ketika disadap. Kondisi ini diperparah dengan gugurnya daun karet secara alami sebagai mekanisme pohon untuk mengurangi penguapan dan menghemat cadangan air.
Akibatnya, hasil panen pekebun mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen dibandingkan kondisi normal.
Ansari menjelaskan, penurunan produksi masih bisa ditekan dengan sejumlah perlakuan tambahan, seperti penggunaan pupuk maupun zat perangsang getah.
"Saat musim kemarau hasil karet memang berkurang. Biasanya dibantu dengan vitamin karet, pupuk, atau obat perangsang agar getah lebih banyak keluar," katanya.
Menurutnya, sebagian pekebun juga menggunakan pupuk TSP (Triple Super Phosphate) serta menambahkan air ke dalam wadah penampung getah untuk mempercepat proses penggumpalan dan menambah berat hasil panen.
Meski demikian, cara tersebut memiliki dampak terhadap kualitas karet yang dihasilkan.
"Memang hasilnya bisa bertambah dan lebih cepat mengeras, tetapi kualitas karetnya menjadi lebih rendah karena kandungan air lebih banyak dan teksturnya kurang kenyal," jelasnya.
Hal senada disampaikan pekebun asal Kecamatan Telaga Langsat, Khaidir Ali. Ia menilai kenaikan harga karet saat ini masih mampu menutupi penurunan produksi akibat musim kemarau.
Menurutnya, pada musim kemarau tahun 2025 harga karet hanya berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Sementara tahun ini harganya sudah mencapai sekitar Rp15.000 per kilogram.
"Walaupun hasil sadapan berkurang karena kemarau, kenaikan harga tetap membuat penghasilan pekebun meningkat dan cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Para pekebun berharap harga karet dapat bertahan di level saat ini. Dengan harga yang tetap tinggi, mereka optimistis pendapatan keluarga tetap terjaga meski produksi masih tertekan akibat musim kemarau.
Editor : Eddy Hardiyanto