Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Harga Karet di Balangan Mencapai Rp15 Ribu per Kilogram 

M Dirga • Minggu, 7 Juni 2026 | 15:35 WIB
TIMBANG KARET: Petani di Kabupaten Balangan saat menimbang getah karet (lum) hasil sadapan sebelum dijual kepada pengepul. Harga jual karet saat ini meroket hingga Rp15 ribu per kilogram. (Foto: M Dirga / Radar Banjarmasin)
TIMBANG KARET: Petani di Kabupaten Balangan saat menimbang getah karet (lum) hasil sadapan sebelum dijual kepada pengepul. Harga jual karet saat ini meroket hingga Rp15 ribu per kilogram. (Foto: M Dirga / Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Sempat terpuruk hingga menyentuh angka Rp5 ribu per kilogram pada dua tahun lalu, harga komoditas karet di Kabupaten Balangan kini perlahan merangkak naik. Saat ini, harga jual di tingkat petani berada di kisaran Rp11 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini jelas menjadi angin segar bagi para petani, mengingat karet merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat Bumi Sanggam. Diki Rahmani, salah satu petani karet di Balangan mengatakan, lonjakan harga ini sangat berarti untuk menopang kebutuhan pokok rumah tangga sekaligus tabungan masa depan.

"Baru tahun ini harga karet kembali naik ke angka Rp15 ribu. terakhir kali menembus Rp18 ribu pada era Presiden SBY," ungkap Diki, Minggu (7/6).

Kendati demikian, Diki menyebut harga maksimal itu sangat bergantung pada standar kualitas dari pembeli, khususnya menyangkut tingkat kekeringan getah. 

Getah bisa dihargai maksimal Rp15 ribu per kilogram apabila didiamkan selama beberapa hari hingga benar-benar kering. Namun, jika getah hanya didiamkan sehari dan langsung dicampur dengan sadapan baru, pengepul hanya membelinya seharga Rp12 ribu per kilogram.

Hal itu turut diamini oleh Kamarudin, petani asal Desa Pulantan, Kecamatan Awayan. Pemilik 150 batang pohon karet produktif ini baru saja menjual lima kilogram getah (lum) seharga Rp60 ribu, yang berarti sekilo dihargai Rp12 ribu.

"Meski hanya memiliki sekitar 150 batang pohon produktif, saya sangat bersyukur karena dengan naiknya harga ini kebutuhan ekonomi keluarga bisa jauh lebih terpenuhi," tutur Kamarudin.

Menurutnya, kadar air memang sangat menentukan harga jual. Jika lum didiamkan hingga sepekan agar lebih kering, harganya bisa menembus Rp13 ribu sampai Rp15 ribu. Namun, upaya mengejar kekeringan maksimal ini kerap terkendala cuaca. Saat musim hujan, petani terpaksa libur menyadap dan kesulitan memanen karena kondisi getah belum kering. 

"Oleh karena itu, kami biasanya memilih ritme aman dengan menjual karet ke pengepul setiap tiga hari sekali," tambah Kamarudin.

Di tingkat pengepul, selisih harga dan kualitas kadar air ini memiliki hitungan tersendiri. Gamsani, pengepul di Desa Pulantan, mengaku membeli karet dengan harga bervariasi dari petani untuk kemudian dikeringkan lagi di tempatnya.

Gamsani menyetor getah ke pabrik sepekan kemudian, atau setelah terkumpul hingga dua ton. Pada rantai pasok ke pabrik ini, nilai jual getah yang disetorkan rupanya melonjak cukup drastis.

"Harga pembelian dari pabrik yang mencapai kisaran Rp17 ribu hingga Rp18 ribu ini adalah yang paling tinggi selama 14 tahun saya bekerja sebagai pengepul," jelas Gamsani.

Sayangnya, tingginya harga karet saat ini tidak dibarengi dengan hasil produksi yang melimpah. Volume sadapan merosot tajam dalam tiga hingga empat tahun terakhir akibat anomali cuaca dan masifnya serangan penyakit gugur daun.

Sejumlah penyadap mengungkapkan, pada rentang 2020 hingga 2021, pohon karet biasanya hanya menggugurkan daun setahun sekali. Namun sekarang, intensitasnya meningkat drastis hingga tiga atau empat kali dalam setahun.

Kondisi ini diperparah dengan rentannya pohon karet terhadap serangan jamur dan bercak daun yang membuat produksi getah harian anjlok. Situasi dilematis ini memicu sebagian petani frustrasi hingga nekat menebang pohon karet untuk diganti dengan kelapa sawit atau tanaman hortikultura lain.

"Kami sangat berharap pemerintah daerah memberikan pendampingan, pelatihan, serta solusi pengendalian penyakit tanaman karet yang berkelanjutan," pungkas petani lainnya, Akhmad Tarmiji.

 

Editor : Arif Subekti
#kualitas getah #harga #karet #Balangan