RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Tragedi banjir bandang yang melumpuhkan Kecamatan Tebing Tinggi pada awal tahun 2026 menjadi catatan kelam bagi Kabupaten Balangan.
Agar peristiwa tersebut tak sekadar berlalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Tebing Tinggi merangkumnya ke dalam buku dan video dokumenter.
Penggarapan dokumentasi ini dimatangkan melalui rapat finalisasi draf bersama jajaran Kecamatan Tebing Tinggi di Ruang Rapat BPBD Balangan, Jumat (5/6/2026).
Pertemuan difokuskan pada penyelarasan alur cerita, validasi data kerusakan, serta penyusunan wawancara serta testimoni dari para penyintas.
Pendokumentasian kejadian ini merupakan langkah penting, mengingat besarnya skala kehancuran yang terjadi.
Bencana yang dipicu curah hujan ekstrem tanpa jeda pada 27 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 itu memukul telak kehidupan 13.825 jiwa dari 4.289 Kepala Keluarga (KK) di 34 desa.
Kecamatan Tebing Tinggi dan Awayan menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan terparah.
Khusus di Tebing Tinggi, terjangan arus deras dan lumpur merusak 1.328 rumah warga. Wilayah seperti Desa Sungsum, Desa Ju'uh, Desa Gunung Batu, dan Desa Langkap menjadi episentrum kehancuran.
Kerusakan infrastruktur publik juga tercatat fatal. Sebanyak 30 fasilitas pendidikan, 44 tempat ibadah, fasilitas kesehatan, 9 unit jembatan, hingga akses jalan sepanjang 4 kilometer rusak dihantam luapan air.
Di samping memuat data kerugian, dokumenter ini sekaligus menyajikan fakta lapangan untuk meluruskan desas-desus terkait penyebab musibah.
Berdasarkan investigasi BPBD bersama Tim Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup, banjir dipastikan murni fenomena alam akibat curah hujan yang melampaui kapasitas resapan air, dan belum terkonfirmasi adanya dampak aktivitas tambang di kawasan hulu sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, H Rahmi menyatakankarya ini diproduksi sebagai bahan baku edukasi dan mitigasi kebencanaan bagi warga yang bermukim di zona rawan.
"Video dan buku dokumenter ini bukan sekadar catatan sejarah banjir di Tebing Tinggi, tetapi media pembelajaran. Kami ingin masyarakat paham potensi bencana, mengenali tanda-tanda awal, serta tahu langkah evakuasi yang tepat. Tujuannya agar kerugian jiwa dan materi ke depan bisa diminimalkan," tegas H Rahmi.
Setelah tahap produksi rampung, dokumenter ini akan didistribusikan secara langsung ke sekolah-sekolah dan pemerintah desa sebagai panduan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi cuaca ekstrem.
Editor : Fauzan Ridhani