RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tanah Grogot –Jalur alternatif Kaltim–Kalsel melalui jalan hauling logistik milik PT Jhonlin Group semakin diminati masyarakat.
Selain memangkas jarak, jalur yang menghubungkan Desa Kerang Dayo, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, dengan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, itu mampu menghemat waktu perjalanan hingga lebih dari dua jam.
Jalan sepanjang lebih dari 100 kilometer dengan lebar di atas 15 meter tersebut sebagian telah rampung dibangun menggunakan rigid beton.
Kondisinya yang semakin baik membuat jalur itu menjadi pilihan warga, khususnya masyarakat Batu Engau dan Kabupaten Paser, yang ingin menuju wilayah Kalsel lebih cepat.
Berdasarkan pantauan Kaltim Post (grup Radar Banjarmasin), pada 27 Mei 2026, sekitar 10 kilometer ruas Kerang Dayo menuju Balangan telah berlapis rigid beton dengan kondisi mulus. Sementara sisanya masih berupa jalan pengerasan yang tetap dapat dilalui kendaraan dengan lancar.
Dari Kerang Dayo menuju pusat Kabupaten Balangan yang berjarak sekitar 75 kilometer, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Waktu tempuh tersebut jauh lebih singkat dibandingkan jalur nasional yang selama ini digunakan masyarakat.
Jika melewati rute umum Tanah Grogot–Kuaro–Batu Sopang–Muara Komam–Tabalong–Balangan, pengendara harus menempuh perjalanan sekitar empat hingga lima jam.
Melalui jalur hauling ini, waktu perjalanan dapat dipangkas lebih dari dua jam sehingga menjadi alternatif yang lebih efisien.
Jam Operasional Jalur
Meski dapat dimanfaatkan masyarakat umum, PT Jhonlin Group memberlakukan aturan operasional untuk menjaga keselamatan pengguna jalan dan kelancaran aktivitas logistik perusahaan.
Masyarakat diperbolehkan melintas mulai pukul 17.00 hingga 07.00 Wita. Sementara pada pukul 07.00 hingga 17.00 Wita, jalur tersebut dikhususkan untuk operasional logistik perusahaan dan tidak dapat digunakan oleh kendaraan umum.
Keberadaan jalur alternatif ini diharapkan semakin mendukung konektivitas antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, terutama bagi warga di wilayah perbatasan yang membutuhkan akses perjalanan lebih cepat dan efisien. (*)
Editor : M. Ramli Arisno