Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rayakan HUT ke-76, Begini Sejarah Terbentuknya Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Senin, 1 Juni 2026 | 14:46 WIB
PARIPURNA: Saat berlangsungnya Rapat Paripurna Hari Jadi ke-76 Kotabaru di DPRD Kotabaru. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 
PARIPURNA: Saat berlangsungnya Rapat Paripurna Hari Jadi ke-76 Kotabaru di DPRD Kotabaru. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM - Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kotabaru ke-76 yang digelar khidmat Senin (1/6) terasa berbeda.

Di sela Rapat Paripurna DPRD, Wakil Ketua DPRD Kotabaru Awaludin menyampaikan kilas balik sejarah untuk mengingatkan akar perjuangan Bumi Sa-Ijaan.

Plebisit 1947: Warga Pilih RI Lawan Intimidasi NICA

Awaludin memaparkan, sejarah Kotabaru tak lepas dari gejolak pasca-kemerdekaan RI, terutama setelah Perjanjian Linggarjati 25 Maret 1947. Saat Belanda/NICA berupaya kembali menguasai Nusantara, tekanan politik juga terjadi di Kalimantan Tenggara.

"Sejarah mencatat, NICA mengadakan plebisit di Kotabaru. Seluruh penduduk dikumpulkan di Sekolah Rakyat Baharu, kini SDN Batuah. Disediakan tiga kotak suara bertuliskan Republik Indonesia, Borneo, dan Timur Besar," urai Awaludin.

Meski diwarnai intimidasi, mayoritas warga Kotabaru berjiwa nasionalisme tinggi. Mereka berani memilih kotak berlabel Republik Indonesia. Pilihan itu jadi bukti autentik warga Kalimantan Tenggara ingin melebur ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Manuver Belanda dan Perlawanan Tokoh Republik

Mengabaikan hasil plebisit, Letnan Gubernur Jenderal Belanda tetap membentuk daerah bagian seperti Neo Swapraja Pulau Laut, Neo Swapraja Pagatan, hingga Neo Swapraja Cantung Sampanahan untuk mempertahankan pengaruh kolonial.

Pergolakan ini memicu perlawanan tokoh daerah berjiwa Republik. Demi menyatukan visi menjelang Konferensi Meja Bundar, M Yamani diutus ke Konferensi Antar Indonesia. Tekanan rakyat untuk membubarkan dewan bentukan Belanda pun memuncak.

Delegasi ke Yogyakarta-Jakarta, RIS Bubarkan Dewan

Februari 1950, delegasi atas nama rakyat Kalimantan Tenggara berangkat ke Yogyakarta dan Jakarta. Tokoh seperti M Djamdjam, Anang Imbran, KH M Arief, dan K Asikin Noor membawa resolusi agar wilayah ini kembali ke RI Proklamasi 17 Agustus 1945.

Perjuangan itu berbuah hasil. Lewat Keputusan Presiden RIS 4 April 1950, Dewan Kalimantan Tenggara resmi dibubarkan. Administrasi diserahkan bertahap, dan 1 Juni 1950 ditetapkan sebagai awal masa jabatan M Yamani sebagai Kepala Daerah Kotabaru. Tanggal itu kini abadi sebagai Hari Jadi Kotabaru.

Refleksi HUT ke-76: Jaga Api Semangat Persatuan

Menutup paparannya, Awaludin juga menyinggung dinamika otonomi modern, termasuk pemekaran Kabupaten Tanah Bumbu pada 8 April 2003 lewat UU No 2/2003.

"Sejarah panjang ini bukan cerita pengantar tidur. Ini fondasi. Tugas kita hari ini menjaga api semangat persatuan para pendahulu demi memajukan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kotabaru," tutupnya.

Editor : Sutrisno
#Kotabaru #Hari Jadi