RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Inovasi pengolahan cabai Hiyung di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, terus berkembang. Kini tidak kurang dari 27 jenis produk olahan berbahan dasar cabai Hiyung telah diproduksi dan dipasarkan oleh kelompok tani bersama pelaku UMKM setempat.
Ketua Kelompok Tani Karya Baru Desa Hiyung, Junaidi, mengatakan pengembangan produk olahan cabai Hiyung dilakukan untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian masyarakat. Selain meningkatkan nilai jual cabai, usaha tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi ibu-ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses produksi.
“Kami terus berupaya memajukan dan memasarkan produk olahan cabai Hiyung. Dari produk olahan ini ada nilai tambah yang dirasakan petani maupun ibu-ibu rumah tangga yang membuatnya,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, keberadaan produk olahan menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga stabilitas pendapatan petani, terutama saat harga cabai segar di pasaran mengalami penurunan.
“Ketika harga cabai murah, produk olahan menjadi solusi karena memberikan nilai tambah bagi hasil panen petani,” katanya.
Junaidi menjelaskan, perkembangan produk olahan cabai Hiyung terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini terdapat 27 produk olahan yang dipasarkan, mulai dari sambal kemasan, abon cabai, kerupuk cabai, hingga berbagai olahan kreatif lainnya.
Pemasaran produk juga semakin luas. Tidak hanya beredar di Kalimantan Selatan, produk olahan cabai Hiyung kini telah menjangkau sejumlah daerah di luar provinsi. Bahkan pemasarannya sudah memanfaatkan platform digital.
“Alhamdulillah sekarang penjualan sudah sampai ke luar Kalimantan Selatan. Produk kami juga sudah dipasarkan melalui platfor digital sehingga lebih mudah dijangkau konsumen,” ungkapnya.
Ia mengakui pada masa awal pengembangan usaha, kelompok tani sempat menghadapi kendala dalam hal pemasaran. Namun berkat dukungan berbagai instansi dan promosi yang dilakukan secara berkelanjutan, cabai Hiyung dan produk turunannya semakin dikenal masyarakat.
“Awalnya memang kami terkendala pemasaran. Tetapi berkat bantuan dinas-dinas terkait yang terus mempromosikan cabai Hiyung, sekarang produk kami semakin dicari masyarakat,” tuturnya.
Dalam satu tahun, penjualan seluruh produk olahan cabai Hiyung diperkirakan mencapai antara 3.000 hingga 5.000 kemasan. Angka tersebut menunjukkan tingginya minat pasar terhadap produk khas Desa Hiyung tersebut.
Junaidi berharap Pemerintah Kabupaten Tapin terus memberikan perhatian dan dukungan kepada pelaku UMKM lokal, khususnya yang bergerak di sektor pengolahan cabai Hiyung.
“Kami berharap pemerintah daerah terus mendukung UMKM yang ada di Tapin, khususnya pengolah cabai Hiyung, sehingga usaha ini bisa berkembang lebih besar lagi dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” harapnya.
Editor : M Oscar Fraby