RADAR BANJARMASIN JAWAPOS.COM, Rantau – Petani cabai rawit Hiyung di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, mendapat sosialisasi pemanfaatan limbah perkebunan dan peternakan sebagai pupuk organik untuk budidaya cabai Hiyung.
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pelatihan pembuatan kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Program ini merupakan bagian dari Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Ketua tim kegiatan, Dr. Afiah Hayati, SP., MP., mengatakan limbah perkebunan dan peternakan sangat aman dimanfaatkan menjadi pupuk organik apabila melalui proses pengomposan yang benar.
“Limbah perkebunan dan peternakan untuk dijadikan pupuk organik sangat aman, yaitu dengan cara dikomposkan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk cabai rawit Hiyung,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, proses fermentasi pupuk organik memerlukan waktu yang berbeda-beda, tergantung bahan yang digunakan, terutama kandungan karbon dan nitrogen di dalamnya.
Menurutnya, limbah yang cocok dijadikan pupuk organik adalah limbah dengan kandungan karbon dan nitrogen tinggi, jumlahnya melimpah, serta mudah diperoleh masyarakat sekitar.
“Manfaat pupuk organik lebih baik untuk jangka panjang dibanding pupuk nonorganik, karena dibuat dari limbah, biayanya murah dan memiliki banyak manfaat untuk kesuburan tanah,” katanya.
Penggunaan pupuk organik juga dinilai mampu menekan biaya produksi petani cabai Hiyung yang selama ini cukup tinggi akibat ketergantungan pada pupuk kimia.
“Harapannya produksi cabai Hiyung semakin meningkat dengan memanfaatkan pupuk organik yang tersedia di sekitar desa, sehingga biaya produksi bisa ditekan,” tambahnya.
Kegiatan itu turut melibatkan sejumlah mahasiswa ULM. Selain mendukung pengabdian kepada masyarakat, keterlibatan mahasiswa bertujuan meningkatkan keterampilan dan pengalaman lapangan mereka.
Sementara itu, petani cabai Hiyung, Junaidi, menyambut positif adanya sosialisasi tersebut. Menurutnya, pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik bisa membantu petani mengurangi pengeluaran saat masa tanam.
“Kalau pupuk organik ini bisa dibuat sendiri, tentu biaya produksi petani lebih murah,” ucapnya.
Dalam kegiatan tersebut, tim PDWA ULM juga beranggotakan Prof. Bambang Joko P, Ir. Meldia Septiana, M.Si., Ir Abdul Haris, M.Si., Ratna, SP., MP., serta Fani Aulia Diannastiti, SP., M.Sc.
Editor : Arif Subekti