Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Solar Tembus Rp18 Ribu, Motoris Kelotok Wisata Banjarmasin Menjerit

Endang Syarifuddin • Kamis, 28 Mei 2026 | 11:19 WIB
Para motoris kelotok wisata mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar hingga harus membeli eceran dengan harga mencapai Rp18 ribu per liter.(Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)
MENEPI: Para motoris kelotok wisata mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar hingga harus membeli eceran dengan harga mencapai Rp18 ribu per liter.(Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kelangkaan solar mulai membuat para motoris kelotok wisata di Kota Banjarmasin kelimpungan. Bagaimana tidak, agar tetap bisa beroperasi, mereka terpaksa membeli solar eceran di tepi sungai dengan harga mencapai Rp18 ribu per liter.

Kondisi tersebut diduga terjadi setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex. Banyak pengguna beralih menggunakan solar sehingga stok di lapangan makin sulit didapat.

Para pemilik kelotok mengaku kini semakin susah mencari solar. Kalaupun ada, harganya mahal dibanding biasanya. Sementara mereka juga tidak bisa membeli bebas di SPBU karena adanya aturan pembatasan penggunaan jeriken untuk solar subsidi.

Salah seorang motoris kelotok wisata, Eli mengaku kondisi ini sangat memberatkan. Namun, mereka tetap harus membeli solar demi tetap bisa bekerja.

“Rada susah, karena biasanya murah, ini bisa di harga Rp15 ribu sampai Rp18 ribu per liter. Kadang ada, kadang gak ada. Kalau gak ada terpaksa libur,” ujarnya.

Menurut Eli, para motoris juga tidak berani menaikkan tarif naik kelotok wisata. Sebab kondisi penumpang saat ini masih belum ramai. “Gak bisa menaikkan karena penumpang bisa gak mau lagi. Kita harap ada jalan keluar lah,” keluhnya.

Keluhan serupa disampaikan Ketua Koperasi Kelotok Wisata Siring Banjarmasin, Supiani Yanto. Ia mengatakan dampak dari mahal dan langkanya solar membuat biaya operasional para pengemudi kelotok wisata terus naik.

Bahkan, menurutnya, terkadang solar mahal pun tetap sulit ditemukan. “Kalau mahal tapi (stoknya, red) ada kan lumayan. Ini kadang mahal kosong lagi. Kemarin aja ada Rp18 ribu per liter di pinggir sungai,” ujarnya.

Supiani menegaskan pihaknya belum bisa menaikkan tarif wisata sungai karena khawatir penumpang semakin sepi. Dengan tarif sekarang saja masih ada masyarakat yang menawar. “Ya, omzet tentu menurun karena biayanya kan naik,” katanya.

Pihak koperasi sebelumnya juga sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Banjarmasin. Mereka berharap ada solusi agar motoris kelotok lebih mudah mendapatkan solar.

Para motoris berharap Pemerintah dapat menyediakan tempat atau jalur khusus pembelian solar bagi kelotok wisata. Sebab, hingga kini belum ada pangkalan khusus untuk kebutuhan BBM kelotok wisata di kawasan sungai Banjarmasin.

“Kami sudah mengajukan ke dinas dan katanya siap membantu. Intinya harapan kami ya bagaimana supaya kami mudah mendapatkan solar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Disporapar Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil mengaku pihaknya akan mencoba berkoordinasi dengan Pertamina terkait keluhan para motoris kelotok wisata. Persoalan tersebut cukup berdampak terhadap wisata sungai yang menjadi salah satu ikon Kota Banjarmasin.

“Kami akan coba koordinasikan lagi dengan pihak terkait, termasuk Pertamina, apakah ada solusi atau mekanisme khusus agar kelotok wisata ini tetap bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Di bagian lain, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin, Hendra meminta Disporapar Banjarmasin untuk segera mencarikan solusi. Persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keberlangsungan wisata sungai yang menjadi ikon Kota Banjarmasin.

“Ini harus segera dicarikan solusi. Jangan sampai wisata sungai kita terganggu hanya karena kesulitan mendapatkan solar,” ujarnya.

Politisi PKS ini menilai Disporapar bersama pihak terkait perlu turun tangan mencari jalan keluar, termasuk kemungkinan penyediaan akses khusus pembelian solar bagi pengemudi kelotok wisata. “Bagaimana pun mereka ini bagian dari pendukung sektor pariwisata. Pemerintah harus hadir membantu supaya aktivitas wisata tetap berjalan,” katanya.

Ia berharap koordinasi antara Pemerintah Daerah dan Pertamina bisa segera dilakukan agar kebutuhan BBM para motoris kelotok wisata dapat terpenuhi dan tidak semakin membebani pelaku wisata sungai.

Editor : M Oscar Fraby
#kelotok wisata #Pertamina Dex #BBM #banjarmasin #Solar