Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berawal Jualan Wadai Cincin ! Bisa Bertahan Dua Dekade, Ini Rahasia Warung Cincin Bahari di HST

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Senin, 25 Mei 2026 | 12:52 WIB
MASIH BERTAHAN: Selama dua dekade warung cincin bahari masih bertahan.
MASIH BERTAHAN: Selama dua dekade warung cincin bahari masih bertahan.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Ramainya penjual wadai cincin di Desa Muara Rintis, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Di balik deretan warung yang kini ramai menjajakan kuliner khas Banjar itu, ada satu warung lawas yang lebih dulu bertahan sebelum kawasan tersebut dikenal luas seperti sekarang.

Warung itu bernama Cincin Bahari.

Warung sederhana di Desa Muara Rintis tersebut sudah sekitar 20 tahun menjual wadai cincin, kuliner tradisional khas Banjar yang hingga kini masih menjadi buruan banyak orang.

Muzalifah (39), penjaga warung sekaligus penerus usaha keluarga itu, mengatakan usaha tersebut awalnya dirintis orang tuanya saat kawasan Muara Rintis belum seramai sekarang.

“Dulu sebelum seramai sekarang, warung kami sudah lebih dulu jualan di sini. Nama awalnya dulu Cincin Bahari,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Usaha itu kemudian diteruskannya hingga sekarang dengan satu prinsip yang tetap dijaga, yakni mempertahankan rasa dan bentuk asli wadai cincin.

Bentuknya tetap sederhana.

Rasanya pun tetap dipertahankan seperti dulu.

“Dari dulu sampai sekarang rasanya tetap sama, bentuknya jua kada kami ubah,” katanya.

Kue cincin sendiri menjadi salah satu kuliner khas Banjar yang cukup populer di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Sekilas bentuknya menyerupai donat kecil, namun memiliki cita rasa khas dari perpaduan tepung dan gula merah.

Menariknya, proses pembuatannya hingga kini masih menggunakan cara tradisional.

Tak banyak yang diubah meski zaman terus bergerak.

Warung Cincin Bahari biasanya mulai buka sekitar pukul 07.00 Wita.

Jika kondisi badan masih kuat, Muzalifah bisa bertahan berjualan hingga waktu magrib.

“Kalau tidak capek bisa sampai magrib jualannya,” jelasnya.

Pelanggan yang datang pun tidak hanya berasal dari wilayah Barabai.

Banyak pembeli datang dari daerah lain seperti Balangan hingga Tabalong.

Di tengah maraknya penjualan makanan secara online, pelanggan setia warung lawas itu ternyata masih terus bertahan.

“Alhamdulillah pelanggan tetap masih ada saja. Kadang ada yang langsung datang ke sini, kadang ada jua yang menelpon dulu,” ujarnya.

Tak hanya menjual wadai cincin, warung tersebut juga menyediakan aneka makanan khas lainnya seperti sirup Batumandi, kue jabuk, kue roko buatan sendiri hingga kacang jaruk.

Meski harga bahan baku dan plastik terus naik, Muzalifah memilih tetap mempertahankan harga wadai cincin miliknya.

Satu bungkus masih dijual Rp10 ribu.

“Biar harga plastik naik, tetap haja kami jual Rp10 ribu,” pungkasnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
#wadai cincin #warung #HST