Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

10 Penulis Pilihan MTN Lab Siap Bukukan Cerpen Isu Lokal Kalsel ! Dari Susur Sungai hingga Trauma Lanskap

Sheilla Farazela • Minggu, 24 Mei 2026 | 11:00 WIB
KUMPUL: 10 penulis muda siap menjelajah Kalsel untuk menciptakan karya terkait isu lokal terkait lingkungan hingga budaya.
KUMPUL: 10 penulis muda siap menjelajah Kalsel untuk menciptakan karya terkait isu lokal terkait lingkungan hingga budaya.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Sebanyak 10 penulis muda dari berbagai daerah di Indonesia resmi terpilih sebagai promising writers dalam ajang Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab x Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026.

Program bergengsi hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan RI dan komunitas lokal tersebut digelar selama empat hari, 23–26 Mei 2026, dengan Kalimantan Selatan sebagai pusat kegiatan.

Sepuluh talenta muda yang berhasil lolos seleksi ketat berasal dari berbagai wilayah Indonesia, yakni Endry Sulistyo (Samarinda), Windy Joana (Barru), Rafii Syihab (Banjar), Serli Ariska (Seruyan), Arif Kurniawan (Bengkulu), Adjie Valeria Christiasih (Kutai Kartanegara), Rizky Riawan Nursatria (Pati), Tiara Karina (Banjarmasin), Ginanjar Teguh Iman (Magelang), dan Musa Bastara (Banjar).

Mereka terpilih setelah menyisihkan 192 karya cerita pendek (cerpen) yang masuk ke meja kurator Kanti W. Janis dan Sandi Firly sejak 1 April 2026.

Tak sekadar mengikuti pelatihan menulis, para peserta diajak menyelami langsung kehidupan dan realitas Kalimantan Selatan melalui program residensi di Banjarbaru dan sejumlah wilayah sekitarnya.

Berbagai agenda lapangan telah disiapkan, mulai dari Jelajah Budaya Banjar abad ke-5, Ekspedisi Oranje Nassau Pengaron, observasi trauma lanskap di Rantau Bakula, menyadap karet bersama warga, tur Museum Lambung Mangkurat, hingga susur sungai.

Direktur Wabul Sawi, Hudan Nur, menegaskan program ini dirancang untuk mencetak penulis yang bukan hanya piawai merangkai kata, tetapi juga mampu menciptakan dampak sosial melalui karya.

“Kami mencari penulis yang tidak hanya bisa menulis pena di atas kertas, tapi juga bisa menggerakkan sesuatu. Pengalaman empirik di lapangan ini diolah menjadi cerpen yang mampu mengetuk kesadaran dalam menjaga bumi,” ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta didampingi para mentor berpengalaman seperti Kurnia Effendi, Dadang Ari Murtono, dan Mutia Sukma. Selain itu, sejumlah fasilitator turut mendampingi proses kreatif peserta.

Pendampingan bahkan dipastikan berlanjut setelah acara selesai hingga seluruh karya peserta rampung dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Program ini juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Koordinator MTN Seni Budaya Bidang Sastra, David Irianto, menyebut MTN menjadi program prioritas nasional untuk menjaring dan mengembangkan talenta-talenta potensial hingga mampu menembus pasar internasional.

Senada dengan itu, Kasubag TU Direktorat Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Citra Arindi, menegaskan sastra memiliki peran besar dalam melahirkan berbagai karya kreatif lain, mulai dari film, musik, hingga seni rupa.

Melalui kegiatan tersebut, para penulis muda diharapkan mampu mengangkat isu lingkungan dan persoalan lokal Kalimantan Selatan agar dikenal lebih luas.

Dampak program ini bahkan langsung dirasakan peserta asal Barru, Sulawesi Selatan, Windy Joana.

Saat pesawat yang ditumpanginya hendak mendarat di Kalimantan Selatan, pemandangan bentang alam dengan jejak aktivitas tambang yang terlihat dari udara langsung memantik ide cerita baru.

Penulis yang sebelumnya lolos melalui karya bertema evakuasi bencana Siklon Seroja NTT itu kini berencana mengembangkan cerpen bertema horor ekologi yang lahir dari refleksi atas kerusakan lingkungan.

“Kondisi itu sejalan dengan ide tulisan baru saya tentang cerpen Horor Ekologi, sebuah makhluk lain yang muncul akibat kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
#isu lokal #penulis #cerpen