RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Panen cabai Hiyung di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin mulai berlangsung sejak awal Mei 2026. Meski belum memasuki masa panen raya, pekebun sudah mulai merasakan manisnya hasil panen berkat tingginya harga jual cabai khas Kalimantan Selatan tersebut.
Salah satu pekebun cabai Hiyung, Junadi, mengatakan panen saat ini masih sangat terbatas. Dari total areal tanam sekitar 139 hektare, lahan yang sudah dipanen diperkirakan baru mencapai sekitar satu hektare.
“Kalau dikumpulkan, yang mulai panen baru sekitar satu hektare saja. Belum sampai satu persen dari total lahan,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).
Mayoritas tanaman cabai Hiyung saat ini masih menunggu waktu panen raya yang diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang.
“Puncak panennya biasanya bulan Agustus,” katanya.
Meski produksi belum maksimal, harga jual cabai Hiyung di tingkat pekebun cukup menguntungkan. Saat ini cabai Hiyung dibanderol sekitar Rp70 ribu per kilogram.
Harga tersebut menjadi angin segar bagi pekebun di tengah tingginya biaya produksi pertanian. Kenaikan harga pupuk dan obat-obatan pertanian selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pekebun.
“Pekebun merasa senang dan bahagia karena bisa menyesuaikan dengan harga pupuk dan obat, serta masih ada kelebihan untuk membeli kebutuhan hidup di zaman serba mahal ini,” ujar Junadi.
Ia juga memastikan hingga saat ini pekebun belum menghadapi kendala berarti, baik dari faktor cuaca maupun gangguan hama tanaman.
Cabai Hiyung dikenal sebagai salah satu cabai terpedas di Indonesia sekaligus komoditas unggulan Kabupaten Tapin. Selain memiliki sensasi pedas yang khas, cabai ini juga menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak warga Desa Hiyung.
Panen raya memang belum tiba. Namun harga yang tinggi sudah cukup membuat pekebun cabai Hiyung mulai tersenyum.
Editor : Eddy Hardiyanto