Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sutradara 'Pesta Babi' Batal Hadir Nobar di Pendopo Bajuang Hati Banjarbaru

M Fadlan Zakiri • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:36 WIB
TETAP ANTUSIAS: Suasana nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Balai Juang Hajjah Titien (Bajuang Hati) Banjarbaru, Jumat (22/5) sore. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
TETAP ANTUSIAS: Suasana nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Balai Juang Hajjah Titien (Bajuang Hati) Banjarbaru, Jumat (22/5) sore. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Sutradara sekaligus pembuat film dokumenter kondang, Dandhy Dwi Laksono, batal menghadiri agenda nonton bareng (nobar) karya terbarunya yang berjudul Pesta Babi di Kota Banjarbaru.

Kendati demikian, ketidakhadiran sang sutradara tidak menyurutkan animo masyarakat lokal untuk tetap menyambangi lokasi pemutaran. Dandhy semula dijadwalkan menjadi pembicara utama dalam forum diskusi terbuka yang digelar di Balai Juang Hajjah Titien (Bajuang Hati), dii Jalan Purnama, Simpang Empat, Banjarbaru, Jumat (22/5) sore.

Namun, karena keterbatasan waktu dan padatnya agenda serupa di tempat lain, pendiri Watchdoc tersebut hanya bisa hadir lewat zoom untuk mengikuti acara nobar di pendopo milik mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana tersebut.

Meski tanpa kehadiran fisik langsung Dandhy Laksono, ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis lingkungan, tokoh agama, hingga masyarakat umum tetap memadati lokasi acara sejak pukul 13.00 WITA.

Mereka tetap antusias menyaksikan karya audiovisual yang menyoroti realita sosial dan hak adat di Papua tersebut.

Eksekutif Produser Film Pesta Babi, Ari Trismana, memaklumi tingginya ekspektasi warga Banjarbaru untuk bertemu langsung dengan Dandhy. Menurutnya, hal ini sejalan dengan melonjaknya animo masyarakat di tingkat nasional.

Saat ini, permohonan nobar secara nasional bahkan telah menembus angka 12 ribu titik, di mana baru sekitar 1.700 titik yang terkonfirmasi menggelar pemutaran. Namun, Ari menekankan bahwa esensi dari film dokumenter ini bukan sekadar pada kehadiran figur sutradara atau seberapa banyak titik pemutaran yang dicapai.

“Yang perlu ditegaskan sebenarnya bagian pentingnya nobar itu bukan berapa banyak titik yang berhasil atau kehadiran fisik (sutradara). Bagian terpenting adalah terjadinya pertemuan antar anak muda, kelompok masyarakat yang punya masalah, atau kelompok masyarakat rentan lainnya untuk berdiskusi,” ujar Ari usai kegiatan nobar.

Menurutnya, pilihan menggunakan skema nobar tatap muka ketimbang langsung mengunggahnya ke platform digital seperti YouTube terbukti ampuh. Pola ini dinilai berhasil menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi, dialog, bahkan perdebatan sehat di berbagai daerah, termasuk di Banjarbaru. “Nobar itu jadi media mempertemukan kelompok masyarakat, beragam kelompok masyarakat, dan mendiskusikan persoalan-persoalan mereka sendiri,” katanya.

Ketidakhadiran Dandhy pun terbayar dengan hidupnya jalannya diskusi pasca-pemutaran film. Salah satu penonton, Abdul Karim, warga Kelurahan Mentaos, mengaku mendapatkan edukasi politik dan sosial yang berharga setelah menonton tayangan berdurasi penuh tersebut, meski awalnya sempat terkecoh dengan judul film yang provokatif.

Sementara itu, Gani, warga Liang Anggang, meluapkan kekecewaannya terhadap potret kebijakan pembangunan yang terekam di dalam film. “Bagi saya kejadian film dokumenter ini jadi gambaran bahwa ada hal yang harus dibenahi. Pembangunan silakan, asal jangan sampai menggusur hak rakyat sendiri,” ujarnya.

Selain dihadiri warga, forum ini juga tetap berjalan bobot dengan hadirnya sejumlah tokoh pemantik lain yang mendampingi perwakilan masyarakat korban. Di antaranya politisi sekaligus aktivis lingkungan Berry Nahdian Forqan, serta mantan Direktur Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Pesta Babi #Dandhy Dwi Laksono #kalimantan selatan #banjarbaru #Film