RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru- Kenyataan pahit harus ditelan mayoritas nelayan di Desa Tengah, Marabatuan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kamis (21/5).
Di tengah ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, pasokan resmi dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) setempat justru jauh dari kata cukup.
Akibatnya, puluhan nelayan terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli solar eceran dengan harga selangit, demi bisa tetap melaut.
"Kalau beli eceran di sini mahal sekali, tembus Rp15 ribu sampai Rp17 ribu per liter," ungkap Sapriansyah, nelayan Desa Tengah, Pulau Marabatuan.
Sapriansyah mengaku beruntung karena namanya masih masuk dalam daftar penerima jatah solar subsidi di SPBN.
Namun, ia sedih melihat rekan-rekan seprofesinya. Berdasarkan pantauannya di lapangan, kuota yang tersalurkan dari SPBN saat ini belum mampu menyentuh setengah dari total nelayan yang ada.
"Alhamdulillah saya dapat jatah. Tapi di Desa Tengah ini belum sampai 50 persen nelayan yang kebagian dari SPBN. Masih banyak sekali yang belum dapat," keluhnya.
Kondisi karut-marut kelangkaan solar ini kian diperparah pasca adanya penyesuaian harga beberapa waktu lalu.
Menurut Sapriansyah, sebelum ada kenaikan Dexlite, di lapangan cenderung aman. Namun belakangan, stoknya justru perlahan menyusut.
Didorong rasa iba melihat rekannya tidak bisa melaut karena kehabisan bahan bakar, Sapriansyah berinisiatif membagi jatah subsidi miliknya.
"Harusnya saya dapat jatah 210 liter per bulannnya. Tapi karena banyak teman yang tidak dapat, saya inisiatif membaginya. Biasanya saya hanya ambil 100 liter, sisanya dibagi ke nelayan lain. Kasihan mereka," ceritanya.
Ironisnya, para nelayan sebenarnya sudah mengikuti regulasi pemerintah dengan mengurus Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka).
Kartu yang digadang-gadang menjadi salah satu akses mendapat BBM subsidi tersebut nyatanya belum membuahkan hasil.
"Kalau Kartu Kusuka sudah ada. Teman teman sudah mengajukan untuk dapat jatah, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Jadi selama ini ya terpaksa beli eceran," tambahnya.
Mewakili suara pelaut Pulau Sembilan, Sapriansyah menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera menambah kuota BBM bersubsidi di wilayah mereka.
Terlebih, Desa Tengah merupakan kawasan pesisir di mana hajat hidup masyarakatnya didominasi oleh sektor kelautan.
"Mudah-mudahan cepat terwujud penambahan kuota. Harapan kami semua nelayan di Marabatuan bisa dapat jatah resmi di SPBN. Karena mayoritas masyarakat di Desa Tengah ini, 90 persennya adalah nelayan yang sangat bergantung dengan solar,” tutupnya.
Editor : M Oscar Fraby