RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Darah seni almarhum maestro Bachtiar Sanderta terbukti mengalir deras dalam nadi Rudi Nugraha. Puluhan lagu telah diciptakannya, membuktikan produktivitas dan totalitas seniman senior Kalimantan Selatan yang kini menetap di Bumi Saijaan ini.
Ia sukses menancapkan taji di panggung permusikan Banua lewat deretan karya yang fenomenal.
Tidak tanggung-tanggung, buah kreativitas Rudi sangat kaya warna.
Mulai dari tembang romansa percintaan yang menyayat hati, sarana promosi wisata, hingga lagu-lagu bertema identitas daerah yang sukses menjadi pembakar semangat membangun Banua.
Rudi Nugraha membeberkan bahwa karya-karya yang lahir dari jemarinya bukan sekadar coretan lirik biasa.
Setiap bait lagu Banjar yang ia ciptakan merupakan kristalisasi dari lembaran proses kehidupan yang telah dilaluinya. “Semua adalah bagian dari proses hidup. Baik saat berkesenian, berinteraksi dalam keluarga dan masyarakat, hingga inspirasi spiritual yang mendalam saat saya menjalankan ibadah haji,” ungkap Rudi, Rabu (20/5).
Ia menjelaskan bahwa lewat karya cipta ini, ada misi besar yang ingin disampaikan. Di antaranya pesan moral yang kuat, promosi potensi pariwisata, hingga potret sosial budaya masyarakat Banjar yang khas.
Tengok saja deretan karya magisnya dalam khazanah Lagu Banjar seperti Hambayang Diri, Bawawarah, Ayo Ke Kotabaru, hingga lagu bernuansa legenda Kakamban Hati Suwangi.
Ada pula lagu yang sarat pesan sosial dan religius seperti Kayu Tangiku, Ayo Bangun Banua, Suluh Kuitan, Kambang Kartas, Japin Bapantunan, Wayah Ba Haji, Parimata 2, Armuzna, Djaya Soemitra, Mama Surgaku, serta Batuntung Pandang.
Hebatnya, taji Rudi tidak hanya tajam di lagu berbahasa daerah. Ia juga lihai meracik lagu nasional berbahasa Indonesia lintas genre.
Mulai dari lagu bertema kepariwisataan Legend Of Borneo, genre dangdut lewat lagu Hampa dan Cinta Setengah Tiang, genre pop kreatif Putus, lagu bergenre balada Kertas Putih, hingga lagu ramah anak bertajuk Selamat Pagi Ayah Ibu.
Lewat sentuhan magis Rudi Nugraha, musik bukan sekadar hiburan di telinga, melainkan media pengingat asal-usul dan jati diri sebagai urang Banua.
Editor : M Oscar Fraby