Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mainan dari Bambu hingga Tempurung Kelapa Ramaikan Lomba Kriya FLS3N HSS

M Padil Ihsan • Rabu, 20 Mei 2026 | 13:36 WIB
Salah satu siswa SD yang menunjukan kreativitas nya membuat mobil-mobilan. (M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin) 
Salah satu siswa SD yang menunjukan kreativitas nya membuat mobil-mobilan. (M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin) 

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan – Cabang lomba kriya pada Festival Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) tahun 2026 menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Antusiasme peserta terlihat meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

Lomba kriya sendiri merupakan kompetisi keterampilan mengolah berbagai bahan menjadi karya seni bernilai estetika dan fungsional. Pada tahun ini, cabang tersebut mengangkat tema alat permainan anak-anak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan HSS, Ronaldy Prana Putra, mengatakan jumlah peserta mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jika tahun lalu hanya diikuti tiga peserta, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 23 peserta dari jenjang SD.

“Peserta meningkat signifikan. Tahun kemarin hanya tiga peserta yang ikut, sedangkan tahun 2026 ini mencapai 23 peserta,” ujarnya, Rabu (20/5/2026). 

Dalam perlombaan tersebut, para peserta menunjukkan kreativitas mereka dengan memanfaatkan berbagai bahan alami dan bahan sederhana di sekitar lingkungan. Mulai dari tempurung kelapa, bambu, daun kelapa, daun pisang kering, kayu, hingga stik es krim diolah menjadi aneka karya menarik.

Beragam mainan berhasil dibuat peserta, seperti perahu, congklak, otopet, mobil-mobilan, rumah-rumahan, hingga tas berbahan alami. Seluruh karya tidak hanya dinilai dari segi keindahan, tetapi juga fungsi dan tingkat kreativitasnya.

Salah satu dewan juri, Dini Lutfiani, menjelaskan peserta diberikan waktu selama empat jam untuk menyelesaikan karya mereka di lokasi lomba. Sebelumnya, karya tersebut telah dikerjakan sebanyak 50 persen di sekolah masing-masing.

“Peserta diberi waktu empat jam untuk menyelesaikan karya mereka yang sudah dikerjakan 50 persen di sekolah dan 50 persen lagi diselesaikan di lokasi perlombaan,” jelas Dini.

Ia menambahkan, terdapat lima aspek utama dalam penilaian lomba kriya. “Kriteria penilaiannya meliputi estetika, kerapian, kreativitas, kualitas material, dan fungsional,” tambahnya.

Salah satu peserta dari SDN Kandangan Utara 2, Syafiqna Ahmad Aufar, menampilkan karya berupa mainan kincir air. Siswa kelas 5 SD tersebut mengaku membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mempelajari teknik pembuatan sekaligus menyiapkan bahan-bahannya.

“Saya perlu waktu sebulan untuk mempelajari membuat kincir air ini, dan menyiapkan bahan-bahannya sendiri,” ujarnya.

Melalui lomba kriya FLS3N ini, kreativitas dan kemampuan siswa dalam memanfaatkan bahan sederhana menjadi karya bernilai seni diharapkan terus berkembang. Selain melatih keterampilan, kegiatan tersebut juga menjadi upaya mengenalkan budaya permainan tradisional kepada generasi muda sejak dini.

Editor : M Oscar Fraby
#sd #FLS3N #HSS