Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Surga Tersembunyi di Kelumpang Barat Kotabaru, Lubuk Pandu Mulai Dilirik Wisatawan Luar Daerah

Jumain Radar Banjarmasin • Rabu, 20 Mei 2026 | 13:15 WIB
WISATA TERSEMBUNYI: Suasana wisata alam Lubuk Pandu di Kelumpang Barat. (Foto: Maulida Apsari untuk Radar Banjarmasin)
WISATA TERSEMBUNYI: Suasana wisata alam Lubuk Pandu di Kelumpang Barat. (Foto: Maulida Apsari untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Kotabaru seolah tidak pernah kehabisan surga tersembunyi. Terbaru, sebuah destinasi wisata alam bernama Lubuk Pandu mulai ramai menyedot perhatian pelancong. 

Terletak di perbatasan Desa Siayuh dan Desa Bungkukan, Kecamatan Kelumpang Barat, objek wisata yang satu ini menyuguhkan perpaduan eksotis antara goa batu kapur dan segarnya aliran air sungai pegunungan.

Geliat pesona Lubuk Pandu ini turut memikat perhatian Putri Pariwisata, Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kotabaru 2026, Maulida Apsari. 

Perempuan ramah yang akrab disapa Aca ini membeberkan, meski tergolong baru dan belum dikelola secara resmi, gaung keindahan Lubuk Pandu sudah terdengar hingga ke luar daerah.

“Pengunjungnya tidak cuma warga lokal. Banyak juga yang datang jauh-jauh dari Kalimantan Timur (Kaltim), Banjarmasin, dan daerah lain di Kalsel,” ungkap Caca kepada Radar Banjarmasin, Rabu (20/5). 

Untuk menuju ke sana, petualangan dimulai dari Pelabuhan Tarjun dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. 

Jalurnya, dari Tarjun berkendara menuju pertigaan Serongga, lalu mengambil arah kanan ke Bungkukan, Kelumpang Barat. 

Patokannya adalah sebuah warung dan rumah tingkat dua di dekat Polsek Kelumpang Barat. Di samping rumah itulah gerbang masuknya.

Dari sana, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 300 meter membelah jalan tanah yang dikelilingi rimbunnya perkebunan warga.

Karena belum ada papan petunjuk arah, pelancong harus sedikit jeli melihat tanjakan bebatuan, sebelum akhirnya turun gunung langsung menuju mulut goa.

Begitu menginjakkan kaki di dalam goa, rasa lelah dipastikan langsung tebus tuntas. Pemandangan dinding batu kapur yang kokoh menyambut mata, berpadu dengan gemercik air sungai yang mengalir dingin dari atas gunung.

“Kalau soal jernih, air di sini tidak diragukan lagi. Sangat dingin dan menyegarkan,” puji Aca.

Tak hanya air jernih, Lubuk Pandu juga punya spot foto ikonik nan estetik berupa untaian akar-akar pohon besar yang bergelantungan alami tanpa sentuhan tangan manusia. 

Tempat ini biasanya paling dipadati pelancong saat hari libur, terutama musim libur sekolah, dengan waktu kunjungan favorit dari siang hingga sore hari.

Selain menawarkan pesona yang memikat, Caca menyelipkan sejumlah catatan penting demi keselamatan dan kelestarian Lubuk Pandu. 

Mengingat kedalaman air di lubuk tersebut cukup dalam, ia mengimbau pengunjung untuk ekstra waspada.

“Sangat perlu hati-hati. Kalau musim hujan, sebaiknya hindari dulu untuk berenang. Karena kita tidak tahu kapan air bah berskala besar datang tiba-tiba dari gunung, dan airnya pun pasti keruh kalau hujan,” cetusnya.

Terakhir, sebagai representasi pemuda dan pegiat pariwisata Bumi Saijaan, Caca menaruh harapan besar agar keasrian Lubuk Pandu tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Kesadaran diri dari para pengunjung adalah kunci utama.

“Karena belum ada yang mengelola secara resmi, kesadaran diri masing-masing pengunjung sangat penting. Saya meminta dengan sangat agar kebersihan tempat ini dijaga. Dan yang paling penting, jangan sampai tempat yang asri ini ternodai oleh hal-hal yang tidak senonoh atau tindakan asusila. Mari kita jaga bersama,” tutupnya. 

Editor : Sutrisno
#Kotabaru #Wisata