Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Soroti Sisi Lain Papua, Mahasiswa di Paringin Gelar Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi

M Dirga • Senin, 18 Mei 2026 | 10:08 WIB
Mahasiswa menggellllar nonbar iskusi film dokumenter Pesta Babi  di Aula Kampus Haur Batu Paringin, Minggu (17/5/2026) malam.  (M Dirga/Radar Banjarmasin).
Mahasiswa menggellllar nonbar iskusi film dokumenter Pesta Babi di Aula Kampus Haur Batu Paringin, Minggu (17/5/2026) malam. (M Dirga/Radar Banjarmasin).

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Gelombang antusiasme terhadap film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” menjalar hingga ke Bumi Sanggam. Ratusan massa dari berbagai elemen memadati Aula Kampus Haur Batu Universitas Sapta Mandiri Paringin untuk menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi, Minggu (17/5/2026) malam.

Agenda yang diinisiasi oleh Kementerian Sosial Politik BEM ini sengaja dibuka secara luas untuk publik. Hasilnya, bangku penonton tidak hanya disesaki oleh kalangan mahasiswa, melainkan juga masyarakat umum yang penasaran dengan narasi film yang tengah viral di media sosial tersebut.

Film karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale itu memotret secara mendalam dinamika ruang hidup masyarakat suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu di Papua Selatan. Isu agraria menjadi sentral cerita, terutama mengenai dampak ekspansi proyek industri skala besar berlabel Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap eksistensi hutan adat setempat.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Alfen, menjelaskan bahwa langkah meluncurkan nobar ini didasari atas keinginan kuat untuk menghadirkan ruang edukasi alternatif yang sehat di Kabupaten Balangan.

“Tujuan kami adalah membuka ruang bersama untuk memahami kondisi yang terjadi di Papua dari berbagai sudut pandang. Kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda, bisa melihat sebuah persoalan secara utuh dan multi-perspektif,” ungkap Alfen.

Alfen mengatakan, nobar dan diskusi ini merupakan ruang bertukar pikiran bagi masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk membahas isu sosial, kemanusiaan hingga lingkungan yang diangkat dalam film dokumenter tersebut. Tujuannya, untuk memancing kesadaran dan refleksi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Lewat kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang dialog yang terbuka, santai, tetapi tetap kritis. Jadi bukan sekadar menonton film saja,” ucapnya.

Alfen menegaskan kegiatan tersebut murni bertujuan untuk membuka ruang diskusi dan memperluas sudut pandang peserta terhadap berbagai persoalan sosial yang diangkat dalam film.

Tensi forum kian hidup ketika memasuki sesi diskusi pasca-pemutaran film. Abdullaah, yang bertindak sebagai pemantik diskusi, mengarahkan jalannya forum melalui dialog dua arah tanpa menggiring opini penonton ke satu sudut pandang tertentu. Peserta diajak membedah fakta dari aspek ekologi, sosial-budaya, hingga kedaulatan pangan.

Berbagai tanggapan pun mencuat dari ruang diskusi. Setiawan, salah satu warga Paringin yang hadir sebagai peserta umum, mengaku mendapatkan perspektif baru yang jauh lebih mendalam setelah menyaksikan dokumenter tersebut.

“Selama ini informasi tentang Papua yang sampai ke kita kebanyakan hanya soal pembangunan fisik atau wisatanya saja. Setelah menonton film ini, saya jadi tersadar ada sisi lain yang juga harus kita ketahui, terutama bagaimana cara masyarakat adat di sana mempertahankan ruang hidup dan budayanya,” aku Setiawan.

Meski isu agraria dan hak adat yang diangkat dalam film ini tergolong sensitif di tingkat nasional, jalannya pemutaran film hingga diskusi interaktif di Kota Paringin ini berlangsung dengan sangat kondusif, tertib, dan kaya akan gagasan hingga akhir acara.(*)

 

Editor : M Oscar Fraby
#Pesta Babi #film dokumenter #mahasiswa