Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Harga Solar Turun, Nelayan di Desa Rampa Kotabaru Tetap Pilih Tidak Melaut, Ini Alasannya

Jumain Radar Banjarmasin • Selasa, 12 Mei 2026 | 14:17 WIB
SIBUK: Salah satu nelayan di Desa Rampa, Hamdani, hanya bisa menyibukkan diri memperbaiki mesin kapalnya di dermaga. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 
SIBUK: Salah satu nelayan di Desa Rampa, Hamdani, hanya bisa menyibukkan diri memperbaiki mesin kapalnya di dermaga. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Pesisir Desa Rampa di Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru yang biasanya bising oleh deru mesin diesel, mendadak sunyi, Selasa (12/5).

Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, puluhan perahu nelayan justru banyak bersandar, berjejer rapat di dermaga kayu yang kian lapuk. 

Bukan karena cuaca ekstrem, melainkan lantaran masalah ekonomi yang tak kunjung reda bagi para pencari nafkah di laut ini.

Salah satu potret nyata keterpurukan ini ada pada sosok Hamdani. Pria paruh baya yang telah puluhan tahun menggantungkan nasib pada jaring dan ombak itu, kini terpaksa menjadi montir dadakan bagi kapalnya sendiri. 

Tangannya yang kasar tak lagi memegang kemudi di tengah laut, melainkan sibuk mengutak-atik mesin dan memoles dinding kapal kayu yang catnya mulai mengelupas.

“Terpaksa mencari kesibukan Pak. Daripada hanya termenung di rumah tanpa hasil, lebih baik memperbaiki apa yang bisa diperbaiki di kapal ini,” ujar Hamdani.

Namun, kesibukan memperbaiki kapal hanyalah pelampiasan untuk menutupi kecemasan yang mendalam. 

Bagi nelayan seperti Hamdani, tidak melaut bukan sekadar kehilangan waktu luang, tapi berarti ancaman nyata bagi kepulan asap di dapur. Ada raut getir saat ia menceritakan betapa sulitnya bertahan hidup di tengah situasi yang tak menentu ini.

Ironisnya, lesunya aktivitas melaut ini terjadi justru di tengah klaim penurunan harga bahan bakar solar. 

Kabar mengenai harga solar yang berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp 18 ribu per liter yang diklaim lebih murah dari sebelumnya nyatanya tak serta merta menjadi angin segar.

Secara hitungan, angka itu mungkin dianggap sebagai sebuah penurunan. Namun, bagi nelayan tradisional di Desa Rampa, kalkulasi di atas kertas sering kali berbenturan keras dengan realitas di lapangan. 

Harga tersebut dinilai masih terlalu tinggi jika dikonversi dengan hasil tangkapan yang kian tidak menentu.

"Meski dibilang turun, perbekalan untuk sekali melaut itu tetap mencekik. Risikonya terlalu besar. Kalau kita paksakan turun ke laut dengan modal besar sementara tangkapan minim, kita bukannya untung malah menumpuk utang," keluh Hamdani.

Kondisi ini memicu kritik tersirat terhadap peran pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat pesisir. 

Nelayan merasa skema harga BBM saat ini belum menyentuh daya beli mereka yang berada di garis depan ketahanan pangan laut.

Kapal yang seharusnya menjadi ladang rezeki, kini hanya menjadi saksi bisu penantian panjang akan kebijakan yang lebih berpihak. 

Hamdani dan rekan-rekannya merasa hanya diberikan obat penenang berupa penurunan harga tipis, namun belum menyentuh akar permasalahan biaya operasional melaut yang totalitasnya masih mahal.

“Harapannya tentu ada perhatian lebih, bukan cuma sekedar kabar harga turun. Kami ini hanya ingin bekerja, ingin melaut seperti biasa. Kalau kapal cuma diperbaiki terus tapi tidak dipakai mencari ikan, ya lama-lama kami mau makan apa,” tegasnya.

Editor : Sutrisno
#Kotabaru #Nelayan