RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin - Tanah Bumbu terus berpacu mengejar kembali predikat Madya dalam penilaian Kabupaten Layak Anak (KLA) usai mengalami penurunan ke tingkat Pratama pada 2025. Padahal, pada penilaian sebelumnya daerah ini hampir meraih predikat Nindya dengan selisih nilai yang sangat tipis.
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Kartini, mengakui penilaian KLA tidak hanya bergantung pada satu instansi, tetapi membutuhkan dukungan lintas sektor.
Penilaian Kabupaten Layak Anak (KLA) dilakukan berdasarkan sejumlah indikator yang mencakup pemenuhan hak dan perlindungan anak di daerah.
Penilaian itu meliputi hak sipil dan kebebasan anak, lingkungan keluarga dan pengasuhan, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan dan fasilitas ramah anak, hingga perlindungan khusus terhadap anak dari kekerasan maupun eksploitasi.
“Kalau ada satu sektor saja yang tidak memenuhi indikator, nilainya bisa turun. Karena penilaian itu berbasis dokumen dan standar yang harus dipenuhi,” ujar Kartini.
Ia menjelaskan, untuk mempertahankan predikat Pratama saja, suatu daerah harus memenuhi nilai minimal 600 poin. Sementara itu, hasil evaluasi mandiri saat ini masih berada di kisaran 400 poin lebih. Adapun proses penginputan data berlangsung hingga 15 Mei mendatang.
Menurutnya, proses penilaian dilakukan setiap tahun dengan indikator baru sehingga program yang sebelumnya sudah berjalan belum tentu otomatis mendapat nilai apabila tidak berkelanjutan.
Lebih lanjut, persoalan perlindungan anak di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren, juga menjadi perhatian. Ia menilai standarisasi pesantren ramah anak penting dilakukan guna mencegah perundungan, kekerasan, maupun bentuk pelanggaran terhadap hak anak lainnya.
“Karena ini bukan hanya tanggung jawab satu instansi, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Editor : Arif Subekti