RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU - Kelangkaan solar mulai melumpuhkan aktivitas nelayan di pesisir Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru. Puluhan kapal nelayan kini hanya bersandar di dermaga tanpa bisa melaut akibat sulitnya mendapatkan BBM dan melonjaknya harga solar eceran.
Pantauan di lokasi, Kamis (7/5/2026), suasana dermaga yang biasanya ramai aktivitas bongkar muat hasil tangkapan mendadak sepi. Nelayan hanya terlihat duduk di atas kapal, memperbaiki jaring, hingga mengecat lambung kapal untuk mengisi waktu.
Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (Insan) Kotabaru, Hamdani, menyebut kondisi tersebut sudah masuk tahap darurat bagi ekonomi nelayan pesisir.
Menurutnya, harga solar eceran kini menembus Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Ironisnya, meski mahal, BBM tetap sulit ditemukan.
“Ini sudah tidak masuk akal. Solar mahal, barangnya juga susah dicari. Kami seperti dipaksa berhenti bekerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekali melaut nelayan membutuhkan puluhan hingga ratusan liter solar, tergantung jarak dan lama melaut. Dengan harga saat ini, biaya operasional meningkat drastis hingga dua sampai tiga kali lipat.
Sementara itu, harga ikan di pasaran tidak mengalami kenaikan signifikan. Kondisi tersebut membuat hasil tangkapan tidak lagi mampu menutupi modal operasional.
“Kalau dipaksakan berangkat, hasilnya tidak cukup menutup biaya solar. Banyak nelayan akhirnya memilih parkir kapal daripada rugi,” katanya.
Dampak kelangkaan BBM mulai dirasakan langsung oleh keluarga nelayan. Sejumlah warga mengaku sudah berkeliling mencari solar hingga ke luar wilayah Desa Rampa, namun tetap kesulitan mendapat pasokan.
Hamdani menduga kondisi ini berkaitan dengan persoalan distribusi BBM yang belakangan ramai terjadi di Kotabaru. Ia mendesak pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan sebelum kondisi ekonomi masyarakat pesisir semakin terpuruk.
“Kami tidak minta macam-macam. Kami hanya ingin harga stabil dan solar tersedia supaya bisa kembali bekerja. Kalau terus begini, kemiskinan di wilayah pesisir akan semakin dalam,” tegasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto