RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar mulai mengubah pola penanganan sekolah rusak. Jika sebelumnya hanya rehabilitasi parsial, kini pemerintah mengarah pada revitalisasi total hingga relokasi sekolah yang berada di kawasan rawan banjir dan bantaran sungai.
Langkah ini diambil setelah 117 sekolah terdampak banjir pada akhir 2025 hingga awal 2026 lalu.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Banjar, Mahriansyah, mengatakan strategi penuntasan menyeluruh sudah dijalankan dalam dua tahun terakhir. Fokusnya bukan sekadar memperbaiki bangunan, tetapi memastikan keamanan dan kenyamanan belajar siswa dalam jangka panjang.
“Capaian penuntasan 2025 mencakup pembangunan ruang kelas baru, toilet, dan berbagai sarana utilitas sekolah,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, revitalisasi sekolah dilakukan menggunakan kombinasi anggaran APBD dan APBN. Sejumlah sekolah bahkan direhabilitasi total agar seluruh fasilitas pembelajaran kembali layak digunakan.
Pada 2026, Disdik Banjar mulai memprioritaskan relokasi dan rekonstruksi sekolah yang berada di bantaran sungai. Keputusan itu diambil usai kajian bersama Dinas PUPR menemukan sejumlah sekolah berada di titik rawan abrasi, banjir, dan cuaca ekstrem.
Tiga sekolah yang masuk prioritas relokasi yakni SDN Astambul Seberang, SDN Mataraman 1, dan SDN Danau Salak.
“Setelah kajian bersama Dinas PUPR, ada beberapa rekomendasi yang harus segera ditindaklanjuti,” kata Mahri.
Selain relokasi, Disdik juga menyiapkan pembangunan ulang permanen untuk SDN Kertak Hanyar 1, 2, dan 3. Bangunan sekolah akan ditinggikan karena posisi saat ini berada di bawah level jalan dan sering terendam banjir.
Sementara itu, SDN Gambut 10 masuk daftar revitalisasi akibat kondisi bangunan rusak dan keterbatasan lahan.
“Secara keseluruhan ada sekitar lima hingga enam sekolah yang menjadi target penuntasan utama tahun ini, termasuk SDN Tatah Bangkal,” jelasnya.
Dari hasil verifikasi sementara terhadap 117 sekolah terdampak banjir, sebanyak 105 sekolah telah dianalisis tingkat kerusakannya. Rinciannya, 34 sekolah mengalami rusak ringan, 63 rusak sedang, dan 14 rusak berat.
Sekolah terdampak terdiri atas 57 PAUD/TK, 48 SD, dan 12 SMP.
Mahri menyebut mayoritas kerusakan terjadi pada bangunan sekolah berbahan kayu yang rata-rata telah berusia puluhan tahun. Kondisi itu membuat bangunan lebih rentan rusak saat terendam banjir dalam waktu lama.
Sebaliknya, sekolah dengan konstruksi beton dinilai jauh lebih tahan terhadap genangan.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk merevitalisasi sekolah berbahan kayu menjadi beton. Minimal semi permanen jika belum memungkinkan,” katanya.
Disdik Banjar pun mulai memprioritaskan pembangunan sekolah berbahan beton di kawasan rawan banjir seperti daerah aliran Sungai Martapura, Riam Kanan, Riam Kiwa, Sungai Gambut, hingga Aluh-Aluh.
Untuk mendukung program tersebut, revitalisasi sekolah pada 2026 dianggarkan sebesar Rp57 miliar. Disdik juga mengupayakan tambahan pembiayaan melalui APBD provinsi dan APBN.
Sebelumnya pada 2025, Disdik Banjar telah mengalokasikan Rp87 miliar untuk revitalisasi 123 sekolah dengan realisasi anggaran di atas 90 persen.
Selain pembangunan fisik, aspek keselamatan siswa juga mulai diperkuat melalui pembangunan pagar sekolah dan penerapan Zona Aman Sekolah (ZOSS) di kawasan lalu lintas padat.
“Salah satunya di SDN Danau Salak. Pagar dibangun untuk menjaga keselamatan anak-anak saat berada di jalur padat kendaraan,” terang Mahri.
Ia menegaskan pola penuntasan menyeluruh akan terus dipertahankan agar pembangunan sekolah tidak lagi sekadar tambal sulam.
“Memang membutuhkan dana besar, tapi jauh lebih efisien untuk jangka panjang,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto